Menurut Rita, interpretasi sementara menunjukkan magma encer yang keluar saat erupsi menerus mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara. Material erupsi kemudian membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat dalam bentuk dua gumuk seperti pulau.
“Interpretasi sementara bahwa magma encer yang keluar pada saat erupsi menerus mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara, sehingga material erupsi membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat dalam bentuk dua gumuk seperti pulau,” katanya.
Namun, Rita menegaskan kesimpulan tersebut masih berupa dugaan yang perlu dikonfirmasi melalui pengecekan lapangan. Badan Geologi akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan.
Terpisah, edukator mitigasi bencana sekaligus anggota IABI Dr. Daryono menjelaskan kemunculan daratan tersebut tidak serta-merta menunjukkan lahirnya gunung api baru yang kerap disebut sebagai “cucu Krakatau”.
“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” kata Daryono.
Menurut Daryono, proses penumpukan material berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga akhirnya endapan tersebut menyembul ke permukaan air.
“Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi,” ujarnya.
Selain faktor geologis, dinamika laut juga berperan dalam pembentukan daratan tersebut. Lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi dominan terlempar ke arah sektor tersebut, sementara arus dan gelombang laut Selat Sunda dapat memindahkan material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap.
Daryono mengatakan keberadaan daratan tersebut masih dapat berubah. Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru dapat membuat daratan semakin meluas. Sebaliknya, jika erupsi berhenti, gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan yang belum padat hingga kembali tenggelam.
“Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Ketahanannya akan makin kokoh apabila terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras,” katanya.
Sebaliknya, lanjut Daryono, struktur muda tersebut dapat terkikis atau bahkan hancur apabila aktivitas vulkanik berhenti dan terpapar gelombang laut. Longsoran bawah laut maupun erupsi eksplosif besar juga dapat menghancurkan struktur tersebut dalam waktu singkat.
Untuk dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri, Daryono mengatakan terdapat tiga syarat geologis utama yang perlu dipenuhi. Pertama, harus terdapat saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.
Kedua, daratan tersebut harus menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya. Ketiga, harus terdapat struktur geologis dan deformasi sendiri, seperti aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
Sementara itu, PVMBG mengimbau masyarakat tetap tenang. Status Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level II atau Waspada, dengan rekomendasi wilayah bahaya pada radius 2 kilometer dari pusat erupsi.
“Untuk keselamatan, masyarakat juga dihimbau untuk tidak mendekat pada radius 1 km dari lokasi kedua gumuk pulau yang terlihat di dekat Gunung Anak Krakatau,” kata Rita.
(dec)































