Menurut dia, bangunan mewah tersebut berada dekat rumah dinas Kepala Lapas Cibinong. Dia memperkirakan ada tiga tipe bangunan serupa hunian yang berdiri di pojok area lapas tersebut.
Karena keterbatasan akses, kata dia, Ombudsman pun hanya bisa masuk ke sebuah bangunan serupa hunian klaster yang memiliki cat warna gading. Di dalam ruang tersebut, Ombudsman menemukan sebuah ruang tamu yang lengkap dengan sofa dan penyejuk ruangan; ruang tengah lengkap dengan fasilitas TV dan kulkas; serta sebuah kamar dengan ranjang ukuran besar.
Pada ruang tersebut, Ombudsman sempat bertemu dengan salah satu penghuni yang mengaku sebagai salah satu warga binaan di Lapas Cibinong. Namun, orang tersebut kemudian melarikan diri dengan masuk ke dalam kamar saat mengetahui rombongan yang datang berasal dari Ombudsman.
"Ketika ditanyakan ke petugas [Lapas Cibinong] menyampaikan bahwa rumah tersebut adalah rumah asimilasi," ujar Syafrida.
Menurut dia, keberadaan rumah asimilasi dengan fasilitas mewah tersebut sangat janggal. Ombudsman pun mendeteksi beberapa fasilitas tambahan yang nampaknya akan melengkapi kompleks hunian mewah tersebut. Beberapa di antaranya seperti simulator golf, kolam renang, dan fasilitas gym.
"Dalam rumah tersebut yang kami dapati ada berisi sofa, kulkas, televisi, dan meja makan. Di mana dalam kulkas tersebut terdapat ada minuman-minuman botol, minuman keras," kata dia.
Selain itu, Ombudsman juga menemukan sejumlah mobil mewah sedang terparkir di dekat area hunian tersebut. Pada saat ini, Ombudsman sudah mengantongi nomor pelat kendaraan tersebut utuk pemeriksaan dan pembuktian lebih lanjut.
(dov/frg)


























