Logo Bloomberg Technoz

Keluhan saluran pencernaan cukup sering dialami atlet, terutama mereka yang menjalani olahraga ketahanan seperti lari. Respons tersebut dapat dipengaruhi oleh perubahan aliran darah, gerakan tubuh, intensitas olahraga, makanan, hingga kondisi lingkungan.

Aliran Darah Berubah Saat Berolahraga

Ketika tubuh berolahraga, distribusi darah berubah dibandingkan saat beristirahat. Otot yang bekerja membutuhkan lebih banyak oksigen dan zat gizi, sementara tubuh juga harus melepaskan panas.

Sistem saraf simpatik kemudian membantu mengatur kembali distribusi aliran darah. Salah satunya melalui penyempitan pembuluh darah menuju organ pencernaan atau vasokonstriksi splanknik.

Pada saat bersamaan, aliran darah menuju otot meningkat. Pembuluh darah di kulit juga dapat melebar untuk membantu pelepasan panas.

Semakin berat dan lama olahraga dilakukan, semakin besar perubahan tersebut. Dalam kondisi tertentu, aliran darah menuju organ pencernaan bahkan dapat turun hingga 80% atau lebih.

Penurunan aliran darah yang berat dapat membuat jaringan usus kekurangan oksigen atau mengalami iskemia. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi normal usus, termasuk proses penyerapan dan pergerakan isi saluran pencernaan.

Panas Memperbesar Tekanan pada Usus

Olahraga dengan intensitas tinggi, khususnya dalam kondisi panas, dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem pencernaan. Penelitian Sarah Chantler dan kolega pada 2021 menunjukkan bahwa olahraga akut dapat meningkatkan permeabilitas usus.

Penelitian tersebut juga menemukan peningkatan kadar intestinal fatty acid-binding protein atau I-FABP, salah satu penanda yang digunakan untuk melihat kerusakan sel usus.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis itu mencakup 35 studi. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan penanda kerusakan dan permeabilitas usus setelah olahraga, dengan efek yang lebih besar ketika olahraga dilakukan dalam kondisi panas.

Mengapa Pelari Lebih Sering Mengalami Dorongan BAB?

Gangguan pencernaan saat olahraga tidak hanya disebabkan oleh faktor fisiologis. Erick Prado de Oliveira dan kolega pada 2014 mengelompokkan penyebab keluhan pencernaan selama olahraga menjadi faktor fisiologis, mekanis, dan nutrisi.

Berkurangnya aliran darah merupakan salah satu faktor fisiologis. Sementara faktor mekanis berkaitan dengan gerakan tubuh, sedangkan faktor nutrisi berhubungan dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Penelitian Peters dan kolega pada 1999 terhadap 606 atlet terlatih menunjukkan bahwa keluhan pencernaan cukup umum terjadi. Pada pelari, 71% melaporkan gejala saluran pencernaan bagian bawah selama berolahraga.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan gejala saluran pencernaan bagian atas yang mencapai 36%. Pada pesepeda, gejala bagian bawah dan atas masing-masing mencapai 64% dan 67%.

Pada triatlet, pola serupa terlihat ketika memasuki fase lari. Gejala saluran pencernaan bagian bawah mencapai 79%, sedangkan gejala bagian atas sebesar 54%.

Keluhan bagian bawah mencakup kembung, kram, nyeri perut samping, dorongan buang air besar, BAB, hingga diare.

Gerakan Berulang Memengaruhi Saluran Pencernaan

Lari melibatkan ribuan gerakan dan benturan yang berulang. Setiap langkah menghasilkan gaya yang diteruskan melalui kaki dan batang tubuh, sementara organ di dalam rongga perut ikut bergerak.

Gerakan tersebut dapat meningkatkan tekanan mekanis pada saluran pencernaan. Bersamaan dengan perubahan aliran darah dan aktivitas saraf, kondisi ini dapat memengaruhi motilitas usus.

Saluran pencernaan memiliki sistem saraf sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Sistem tersebut membantu mengatur gerakan, sekresi, serta berbagai fungsi saluran pencernaan.

Intensitas dan durasi latihan, kondisi tubuh, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelum atau selama olahraga juga dapat memengaruhi respons tersebut.

Dorongan BAB Berbeda dengan Diare

Ketika isi saluran pencernaan mencapai rektum, dinding rektum akan mengalami peregangan. Kondisi tersebut memicu sejumlah refleks yang melibatkan saraf di sekitar rektum dan anus.

Salah satunya adalah rectoanal inhibitory reflex atau RAIR. Refleks ini menyebabkan relaksasi sementara sfingter anal internal setelah rektum mengalami distensi.

Mekanisme tersebut membantu tubuh mengenali isi rektum, baik gas, cairan, maupun feses. Informasi kemudian diteruskan ke otak sebagai bagian dari sensasi ingin buang air besar.

Sfingter anal eksternal tetap dapat dikendalikan secara sadar sehingga seseorang biasanya mampu menahan BAB sampai menemukan toilet.

Namun, ketika berlari, gerakan berulang, perubahan tekanan dalam rongga perut, perubahan aliran darah, dan perubahan motilitas terjadi secara bersamaan. Jika rektum semakin teregang, dorongan untuk BAB dapat menjadi lebih kuat.

Dorongan BAB, buang air besar tanpa disengaja, dan diare merupakan tiga kondisi yang berbeda. Ketiganya dapat muncul ketika berolahraga, tetapi mekanismenya tidak selalu sama.

Penelitian Parnell dan kolega pada 2020 terhadap 388 pelari ketahanan menemukan bahwa 22% responden melaporkan dorongan untuk BAB. Sebanyak 42% melaporkan kram perut sebagai salah satu keluhan gastrointestinal saat berlari.

Makanan dan Minuman Turut Berpengaruh

Selain faktor fisiologis dan mekanis, makanan serta minuman sebelum dan selama olahraga juga berperan. Saluran pencernaan tetap harus memproses asupan ketika tubuh sedang bekerja dengan intensitas tinggi.

Dalam penelitian Parnell dan kolega, sebagian atlet menghindari makanan tertentu sebelum berlomba. Sebanyak 32% menghindari daging, 31% produk susu, 28% ikan atau makanan laut, 24% unggas, dan 23% makanan tinggi serat.

Temuan tersebut tidak berarti makanan tersebut secara pasti menyebabkan gangguan pencernaan. Respons setiap atlet dapat berbeda tergantung toleransi dan kondisi tubuh masing-masing.

Serat, Susu, dan Lemak

Ilustrasi makanan sehat (Envato)

Sebagian jenis serat tidak sepenuhnya dicerna di usus halus. Serat kemudian dapat difermentasi mikroorganisme di usus besar dan menghasilkan gas yang memicu rasa penuh atau kembung.

Produk susu juga dapat menimbulkan masalah bagi orang dengan toleransi laktosa rendah. Laktosa yang tidak terserap dengan baik dapat mencapai usus besar dan difermentasi bakteri sehingga memicu gas, kembung, nyeri perut, atau diare.

Sementara itu, makanan tinggi lemak cenderung memperlambat pengosongan lambung. Konsumsi protein dan lemak dalam jumlah besar terlalu dekat dengan waktu olahraga juga dapat meningkatkan rasa penuh, mual, dan ketidaknyamanan.

Komposisi minuman selama olahraga turut diperhatikan. Asupan karbohidrat perlu disertai cairan yang cukup, sementara konsentrasi karbohidrat dan osmolalitas minuman perlu disesuaikan dengan kebutuhan atlet.

Obat Pereda Nyeri dan Kondisi Panas

Faktor lain yang dapat memengaruhi saluran pencernaan adalah penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS, termasuk ibuprofen.

Obat tersebut dapat mengganggu mekanisme perlindungan saluran pencernaan. Ketika olahraga sudah menyebabkan penurunan aliran darah ke saluran pencernaan, penggunaan OAINS berpotensi menambah tekanan terhadap sistem tersebut.

Dalam penelitian terhadap sembilan pria terlatih, konsumsi ibuprofen sebelum bersepeda meningkatkan penanda cedera dan permeabilitas usus dibandingkan olahraga tanpa ibuprofen.

Kondisi panas dan dehidrasi juga dapat memperberat tekanan pada tubuh. Saat suhu lingkungan tinggi, tubuh harus meningkatkan pelepasan panas melalui kulit, sementara olahraga membutuhkan distribusi darah yang lebih besar ke otot.

Gut Training untuk Atlet

Saluran pencernaan dapat beradaptasi terhadap latihan. Konsep ini dikenal sebagai gut training, yakni membiasakan sistem pencernaan menerima cairan dan karbohidrat selama latihan.

Dengan paparan secara bertahap dan teratur, toleransi gastrointestinal dapat meningkat. Atlet kemudian tidak harus mencoba pola makan atau minuman baru secara mendadak ketika mengikuti perlombaan.

Asker Jeukendrup pada 2017 merangkum sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa latihan dengan asupan karbohidrat dapat membantu meningkatkan toleransi serta kemampuan saluran pencernaan menangani nutrisi selama olahraga.

Kasus Joanna Wietrzyk menunjukkan bahwa olahraga intens dapat menghadirkan tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan otot dan pernapasan. Saat tubuh bekerja keras, saluran pencernaan juga menghadapi perubahan aliran darah, gerakan, asupan makanan, cairan, serta suhu.

Bagi sebagian atlet, responsnya mungkin hanya berupa rasa mulas atau kram. Namun, pada kondisi tertentu, dorongan untuk buang air besar dapat menjadi begitu kuat hingga mengganggu kemampuan mempertahankan isi rektum selama perlombaan.

(seo)

No more pages

Artikel Terkait