“Selama lima tahun, kekuatan Holding UMi ditopang oleh integrasi keunggulan masing-masing entitas. BRI memiliki jaringan dan kapabilitas pembiayaan UMKM serta infrastruktur yang luas, Pegadaian memiliki kompetensi pada pembiayaan berbasis gadai dan ekosistem emas, sementara PNM memiliki kekuatan pada pemberdayaan serta pendampingan kelompok usaha ultra mikro,” ujar Hery.
Integrasi tersebut membuat kebutuhan masyarakat dapat dilayani berdasarkan tahapan perkembangan ekonominya. Pelaku usaha yang baru memulai dapat memperoleh pembiayaan ultra mikro sekaligus pendampingan sebelum berkembang menuju pembiayaan dengan kapasitas yang lebih besar.
Model tersebut juga memungkinkan nasabah mengakses layanan yang lebih luas, mulai dari transaksi dan simpanan hingga investasi dan berbagai produk keuangan lainnya. Dengan demikian, hubungan antara akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas ekonomi menjadi bagian dari satu ekosistem.
Dari sisi jaringan fisik, Holding UMi juga memiliki infrastruktur yang cukup besar untuk menjangkau masyarakat hingga berbagai daerah. Hingga triwulan II 2026, terdapat lebih dari 15.100 kantor BRI, Pegadaian, dan PNM yang menopang akses layanan dalam ekosistem tersebut.
Selain jaringan kantor, Holding UMi diperkuat lebih dari 74 ribu tenaga pemasar. Mereka terdiri dari Mantri BRI, tenaga pemasar Pegadaian, dan Account Officer PNM yang menjadi ujung tombak dalam menjangkau masyarakat hingga tingkat komunitas.
Peran tenaga pemasar tersebut tidak terbatas pada penyaluran pembiayaan. Mereka juga berinteraksi langsung dengan nasabah untuk memahami kebutuhan dan karakteristik usaha, memberikan edukasi keuangan, serta mendampingi pelaku usaha dalam meningkatkan kapasitas bisnis.
2,3 Juta Debitur Naik Kelas
Dalam lima tahun perjalanan Holding UMi, kemampuan menciptakan mobilitas ekonomi menjadi salah satu indikator yang semakin penting. Ukuran keberhasilan ekosistem tidak lagi semata dilihat dari besarnya pembiayaan yang disalurkan.
Hingga akhir triwulan II 2026, sekitar 2,3 juta debitur telah naik kelas. Capaian ini menggambarkan proses perpindahan nasabah dari segmen usaha yang lebih kecil menuju akses pembiayaan dan layanan keuangan dengan kapasitas yang lebih besar.
Menurut Hery, peningkatan kondisi ekonomi nasabah menjadi tolok ukur penting dalam melihat keberhasilan Holding UMi. Akses pembiayaan dinilai baru menjadi tahap awal dari proses pemberdayaan masyarakat.
“Bagi kami, keberhasilan terbesar bukan hanya ketika seseorang memperoleh pembiayaan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika usahanya tumbuh, pendapatannya meningkat, kemampuan menabungnya semakin baik, dan kemudian dia mampu mengakses layanan keuangan yang lebih luas sehingga meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, naik kelas menjadi salah satu agenda penting yang akan terus kami dorong,” jelas Hery.
Pendekatan tersebut menempatkan pemberdayaan dan pendampingan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembiayaan. Nasabah diharapkan tidak berhenti pada kemampuan memperoleh modal, tetapi dapat meningkatkan skala usaha sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Memasuki tahun kelima, Holding Ultra Mikro juga mulai memperluas fokus dari akses pembiayaan menuju inklusi dan literasi keuangan. Salah satu pengembangan yang terlihat adalah penguatan ekosistem emas yang berada di bawah Pegadaian.
Hingga Agustus 2026, ekosistem emas dalam Holding Ultra Mikro telah mencapai sekitar 153 ton. Perkembangan tersebut memperluas fungsi ekosistem dari sekadar pembiayaan menjadi sarana bagi masyarakat untuk membangun aset dalam jangka panjang.
Ekosistem emas itu mencakup layanan gadai dan pembiayaan berbasis emas, Tabungan Emas, transaksi emas secara digital, hingga bullion services. Dengan kapabilitas Pegadaian, masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan dalam memanfaatkan emas sebagai instrumen penyimpan nilai dan pembentukan aset.
Perkembangan ini menjadi bagian dari transformasi Holding UMi. Jika pada tahap awal kebutuhan masyarakat berfokus pada akses terhadap modal, ekosistem kemudian diarahkan untuk mendorong kebiasaan menabung, memperkuat ketahanan keuangan, dan membangun kepemilikan aset.
Hery menilai lima tahun pertama Holding Ultra Mikro menjadi fondasi untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Tantangan selanjutnya bukan hanya mempertahankan skala ekosistem, tetapi memastikan manfaat integrasi dapat dirasakan lebih dalam oleh masyarakat.
“Pada akhirnya, tujuan Holding Ultra Mikro bukan sekadar menjadi ekosistem keuangan dengan skala yang besar. Kami ingin menjadi ekosistem yang mampu membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju kesejahteraan. Inilah kontribusi BRI Group untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan pertumbuhan yang semakin inklusif,” pungkas Hery.
Dengan 33,8 juta debitur aktif, lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro, serta 2,3 juta debitur yang telah naik kelas, Holding UMi memasuki fase baru dengan basis nasabah dan infrastruktur yang telah terbentuk.
Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM selanjutnya akan menentukan seberapa jauh ekosistem tersebut dapat mengubah akses layanan keuangan menjadi peningkatan kapasitas usaha, kepemilikan aset, dan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.
(tim)































