Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, DPK BRI mencapai Rp1.580,7 triliun, tumbuh 6,7% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari dana murah. Giro tumbuh 8,5% dan tabungan 11,3%, sedangkan deposito hanya tumbuh 0,2%.

Perubahan komposisi tersebut membuat rasio CASA BRI meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%. Penguatan dana murah menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat struktur funding ketika ekspansi kredit tetap berjalan.

Memasuki semester II 2026, BRI akan menjaga likuiditas dengan menyelaraskan pertumbuhan kredit dengan kapasitas penghimpunan dana. Dengan begitu, ekspansi intermediasi akan tetap berjalan seiring dengan kemampuan perseroan memperoleh funding.

“Memasuki semester II-2026, kami akan terus menjaga likuiditas secara disiplin terutama dengan menyelaraskan antara pertumbuhan kredit dan juga dengan kapasitas penghimpunan dana,” ujar Viviana.

Selain mengandalkan pertumbuhan dana murah, BRI juga memiliki sejumlah anchor client sebagai bagian dari strategi pendanaan. Perseroan akan terus memperkuat sumber dana tersebut untuk menjaga struktur funding tetap sehat dan efisien.

“Strategi tersebut akan terus kami jalankan untuk memperkuat dana murah, kami juga memiliki beberapa anchor client supaya struktur pendanaan kita tetap sehat dan efisien,” tuturnya.

Strategi pendanaan tersebut berjalan bersamaan dengan upaya BRI menjaga kualitas aset dan permodalan. Pada Juni 2026, rasio non-performing loan (NPL) BRI membaik menjadi 2,9% dari 3,07% pada 2025, sementara cost of credit turun dari 3,4% menjadi 3,1%.

Dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) BRI berada di level 21,6%, jauh di atas ketentuan sebesar 14%. Dengan posisi dana murah yang meningkat, kualitas kredit yang membaik, dan permodalan yang kuat, BRI tetap mempertahankan fokus untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kemampuan pendanaan pada semester II-2026.

(dhf)

No more pages