Pergerakan emas terbaru “terlihat seperti konsolidasi setelah kenaikan yang sangat kuat,” kata Charu Chanana, chief investment strategist di Saxo Markets. Menurutnya, trader juga mungkin sedang mengambil posisi untuk mengantisipasi risiko dari pidato Warsh pada akhir pekan ini.
Ketidakpastian mengenai kebijakan The Fed menjadi salah satu alasan George Efstathopoulos dari Fidelity Holdings Ltd. menggandakan kepemilikan emas dananya dalam tiga pekan terakhir. Manajer dana tersebut mengatakan kepada Bloomberg News bahwa ia mulai menambah kepemilikan setelah investor menarik diri dari obligasi Treasury berjangka panjang menyusul pertemuan The Fed pada Juli, ketika bank sentral mempertahankan suku bunga.
Kenaikan emas dalam beberapa pekan terakhir telah mendorong harganya melewati rata-rata pergerakan 200 hari, yang kerap dipandang sebagai sinyal teknikal bullish. Sebagai tanda meningkatnya partisipasi investor, ETF berbasis emas yang dipantau Bloomberg mencatat penambahan lebih dari 28 ton pekan lalu, terbesar sejak Januari.
Kenaikan 25-delta call skew pada ETF emas terbesar, yang mengukur permintaan opsi call out-of-the-money dibandingkan put, juga menunjukkan investor semakin bullish dan bersedia membayar untuk mendapatkan eksposur terhadap kenaikan harga.
Selain ketidakpastian kebijakan, karakteristik emas sebagai aset lindung nilai juga diuji oleh meningkatnya ketegangan perdagangan global. AS mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara mana pun yang melakukan bisnis dengan Iran sebagai bagian dari upaya mengisolasi Republik Islam tersebut. Ekonomi terbesar dunia itu juga semakin terlibat dalam perang dagang dengan Kanada setelah perundingan kedua negara gagal pekan lalu.
Sementara itu, Citigroup Inc. menaikkan target harga emas tiga bulannya menjadi US$4.800 per ons. Momentum spekulatif terbaru masih “berpeluang berlanjut”, kata analis termasuk Kenny Hu dalam catatan, tetapi “permintaan fisik perlu mengejar” agar reli terus berlanjut.
Harga emas turun 0,4% menjadi US$4.632,75 per ons pada tengah hari di Singapura. Perak turun 1,5% menjadi US$67,93 per ons. Platinum dan paladium juga melemah, sementara Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur mata uang AS, relatif tidak berubah.
(bbn)
































