Logo Bloomberg Technoz

Mahony menyatakan salah satu informasi kunci yang dapat diakses oleh DSI merupakan kontrak komersial eksportir, yang menjelaskan hubungan komersial antara pembeli dan penjual.

Dia menjelaskan DSI bakal mengumpulkan data tersebut guna mengetahui perbedaan harga terjadi karena alasan yang jelas atau alasan yang dibutuhkan secara komersial.

“Misalnya, di Indonesia, mungkin ada pembiayaan praproduksi di mana pembeli memberikan biaya di muka tetapi dengan diskon. Itu harus terus berlanjut. Mungkin ada komponen harga tetap yang harus terus berlanjut. Harus ada cost-plus. Jadi hubungan dan transaksi komersial tersebut adalah bagian dari cara kerja pasar komoditas di sini, dan itu harus dipertahankan. Kita perlu mendapatkan visibilitas tentang hal itu,” tutur dia.

Tahap Rekonsiliasi

Setelah itu, lanjut Mahony, DSI bakal mulai menjalankan perannya ke tahap rekonsiliasi; yakni dengan melakukan pemantauan hingga penyelesaian ekspor.

“Itu adalah bagian penting bagi kita untuk benar-benar memahami ekosistem tersebut saat kita melihat kuantitas, kualitas, penetapan harga, dan elemen-elemen lainnya. Jadi, kita akan terus melakukan rekonsiliasi dari ekspor hingga penyelesaian dan kemudian hasil devisa yang kembali ke bank-bank kita. Itulah cara kita melihat ini secara menyeluruh dari ujung ke ujung,” tegasnya.

Di sisi lain, Mahony memastikan secara bertahap DSI bakal menjalankan perannya sebagai perantara ekspor tiga komoditas strategis tersebut. Dia juga memastikan fungsi perantara tersebut tak bakal mengganggu kontrak yang dimiliki eksportir dan pembeli.

Mahony menjelaskan tahapan tersebut berpotensi memudahkan DSI untuk menekan terjadinya underinvoicing dan transfer pricing.

“Bagi saya DSI, ini bukan tentang laba-rugi DSI, bukan tentang DSI itu sendiri. Bagi saya, ini tentang underinvoicing dan transfer pricing sesuai dengan mandat. Itulah tujuannya. Namun, [hal] yang mendasari semuanya adalah membawa kepercayaan pada pasar komoditas Indonesia,” ujar Mahony.

Pada kesempatan sebelumnya, CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan PT DSI tidak akan bertindak sebagai eksportir tunggal, melainkan sebagai agen penjual dan penyedia sistem pemantauan (monitoring system) transaksi ekspor komoditas strategis Indonesia.

Rosan menyebut eksportir asal Indonesia masih dapat bertransaksi langsung dengan pembeli (buyer) di luar negeri, terutama bagi mereka yang telah memiliki kontrak jangka panjang.

Namun, keberadaan DSI memastikan penetapan harga (pricing) berjalan transparan dan sesuai dengan harga pasar.

"Penjualan segala macam bisa dilakukan secara penuh. Memang jika mereka sudah ada kontrak jangka panjang, silakan. Namun, jangka panjang biasanya pricing-nya belum ada. Nah, sekarang kita bisa pastikan harganya sesuai dengan harga pasar atau tidak, karena selama ini yang terjadi adalah penjualan di bawah harga indeks," ujar Rosan usai menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Dia menambahkan eksportir tidak perlu khawatir karena aktivitas pengiriman barang tetap dapat berjalan seperti biasa tanpa harus melalui satu saluran eksportir tunggal.

"Enggak, ekspor tetap bisa langsung, tetapi kita hanya sebagai agen penjual," tegasnya.

Meski saat ini masih dalam tahap evaluasi, Rosan mengungkapkan rencana jangka panjang DSI untuk bertransformasi menjadi agen penjual tunggal (sole sales agent). Fokus utamanya tetap pada pengawasan sistematis agar transaksi ekspor terdata secara akurat.

"Sekarang kita masih evaluasi ya. Nantinya next step kita adalah sebagai agen penjual tunggal. Akan tetapi, tetap, ekspor dan lain-lainnya bisa dilakukan antara eksportir dan pembeli," jelas Rosan.

Rosan menekankan tujuan utama dari penetapan peran DSI dan penguatan sistem pemantauan ini adalah demi menjaga potensi penerimaan negara dari sektor ekspor.

Adapun, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) telah mengelola devisa ekspor yang berasal dari tiga komoditas utama yaitu batu bara, CPO dan ferro alloy senilai US$14 miliar dalam waktu dua bulan pertama beroperasi.

"Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 hanya dengan 3 komoditas: batu bara, kelapa sawit, dan besi baja, dalam waktu 2 bulan 13 hari DSI telah mengelola devisa ekspor senilai US$14 miliar," ungkap Prabowo dalam pidato kenegaraannya pada Sidang Tahunan MPR/DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (14/8/2026).

Berdasarkan data Danantara, DSI telah memantau 6.500 deklarasi ekspor yang merepresentasikan lebih dari US$14 miliar dalam nilai ekspor dan lebih dari 90 juta ton komoditas.

Perdagangan tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi, menuju lebih dari 100 negara tujuan.

(azr/wdh)

No more pages