Sinthya menjelaskan platform ekspor terintegrasi tersebut sedang dilakukan percobaan untuk nantinya diluncurkan pada 1 September 2026. Dia menjelaskan portal tersebut bakal memuat data ekspor dari tiga komoditas yang dipantau DSI.
Dia memberikan sinyal, platform tersebut bakal mulai digunakan secara bertahap pada akhir September hingga pertengahan Oktober 2026. Sinthya menyatakan platform tersebut bakal diuji coba terlebih dahulu kepada sejumlah eksportir.
“Nanti akan di-enhance dengan eksportir portal, kita akan peroleh kira-kira mungkin nanti di bulan akhir September atau pertengahan Oktober ini nanti itu kita akan uji dengan beberapa eksportir. Sekarang kami sudah dapat contoh-contoh kontrak, nanti mereka akan melakukan piloting di dalam eksportir portalnya,” tegas Sinthya.
Ihwal peran DSI usai 1 Januari 2027, Sinthya menyatakan bakal terdapat evaluasi lanjutan yang dilakukan guna menentukan peran DSI nantinya.
“Nah, ini akan dilihat apakah nanti kita 1 Januari 2027 akan terus melanjutkan dengan ekspor intermediary atau model lainnya. Jadi nanti ini ada kabar barunya nanti setelah ada evaluasi. Kira-kira gitu mungkin tambahannya,” ungkapnya.
Adapun, DSI baru saja mengumumkan jajaran direksi dan komisarisnya. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas hingga anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu tercatat dalam kursi komisaris.
Secara terperinci, Dewan Komisaris dipimpin oleh Komisaris Utama Cipung Noer. Kemudian, Tony Wenas, Mari Elka, dan Harold Tjiptadjaja sebagai Komisaris.
Kemudian, Direktur Utama diduduki oleh DSI Luke Mahony, Direktur Keuangan dan Treasury oleh Sinthya Roesly, Direktur Manajemen Risiko Nur Hidayat Udin, serta Direktur Hukum & Kepatuhan Ivan Ferdiansyah Baely.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan PT DSI mulai beroperasi 1 Juni 2026 dan mengawasi ekspor batu bara, minyak kelapa sawit atau CPO, dan ferro alloy atau paduan besi.
Dia juga memastikan PT DSI tak bakal memengaruhi dan mengubah hubungan bisnis yang telah ada anatara eksportir dan pembeli.
“Jadi tidak usah ragu, bahwa tetap bapak-bapak ibu-ibu bisa melakukan eksportnya secara langsung [...] we honor the sanctity of the contract, kontrak-kontrak yang sangat panjang,” kata Rosan di Wisma Danantara, Senin (24/8/2026).
“Sifat dari DSI ini, kita lebih pada saat ini mengevaluasi, memonitor, dan juga memastikan bahwa yang paling penting adalah [menjaga] transparansi dalam bertransaksi,” tegas dia.
Dia menyatakan DSI diharapkan bakal meningkatkan tata kelola ekspor tiga komoditas tersebut dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
Rosan mengeklaim kehadiran DSI tak bertujuan menambah lapisan birokrasi atau menggantikan peran regulator. Dia menyatakan fungsi perizinan, pengawasan, dan pengaturan tetap berada pada kementerian/lembaga (K/L) terkait.
Adapun, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia telah mengelola devisa ekspor yang berasal dari tiga komoditas utama yaitu batu bara, CPO dan ferro alloy senilai US$14 miliar dalam waktu dua bulan pertama beroperasi.
"Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 hanya dengan 3 komoditas: batu bara, kelapa sawit, dan besi baja, dalam waktu 2 bulan 13 hari DSI telah mengelola devisa ekspor senilai US$14 miliar," ungkap Prabowo dalam pidato kenegaraannya pada Sidang Tahunan MPR/DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (14/8/2026).
Berdasarkan data Danantara, DSI telah memantau 6.500 deklarasi ekspor yang merepresentasikan lebih dari US$14 miliar dalam nilai ekspor dan lebih dari 90 juta ton komoditas.
Perdagangan tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi, menuju lebih dari 100 negara tujuan.
(azr/wdh)


























