Lebih lanjut, Hans mengungkapkan GoPay masih mempunyai ruang sangat besar untuk bertumbuh. Menurut Hans pengguna ekosistem GoTo dengan profil masyarakat urban daya beli sangat tinggi (urban affluent market) akan mendukung kestabilan permintaan.
“Di pasar seperti Indonesia, di mana layanan pinjaman dan jasa keuangan masih relatif belum banyak dimanfaatkan, kami yakin bahwa bisnis ini akan terus menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan perusahaan,” jelas Hans.
Ke depan, Hans menyebut bisnis fintech juga akan terus menarik lebih banyak pengguna. Dengan pertimbangan ini, perseroan memprediksi kinerja fintech GoPay akan menopang, sehingga GoTo menaikkan pedoman kinerja Fintech untuk setahun penuh menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.
"Kami juga berhasil menarik lebih banyak pengguna. Selain itu, tingkat penetrasi pengguna dalam ekosistem GoTo yang kemudian menggunakan layanan pinjaman masih relatif rendah. Artinya, masih terdapat ruang yang sangat besar untuk terus bertumbuh,” ungkap Hans.
Meski pedoman kinerja Fintech GoPay diprediksi menopang, GoTo menyesuaikan pedoman kinerja bisnis On-Demand services, bisnis yang menaungi segmen delivery (GoFood dan Gosend) serta segmen mobility (GoRide dan GoCar) untuk setahun penuh menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun. Hal ini dilakukan perusahaan untuk mengatasi dampak dari kebijakan skema bagi hasil 8% yang diterapkan sejak 1 Juli 2026 lalu.
Dengan strategi ini, GoTo tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun.
(tim)






























