Logo Bloomberg Technoz

Adapun Bank Raya (AGRO), anak usaha Bank Rakyat Indonesia (BRI), terus mencatat pertumbuhan bisnis digital melalui Raya App disertai peningkatan profitabilitas. Sementara Bank Aladin Syariah (BANK) melanjutkan pengembangan ekosistem layanan syariah digital yang turut menopang perbaikan kinerja operasional.

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Meski demikian, mayoritas saham bank digital masih mencatatkan kinerja negatif sepanjang tahun berjalan. Saham Bank Aladin Syariah menjadi yang terkoreksi paling dalam dengan penurunan 70,32% secara year to date (YTD). Disusul Bank Neo Commerce yang turun 50,83%, Bank Jago melemah 41,27%, Allo Bank turun 38,93%, Bank Raya terkoreksi 36,96%, dan Super Bank melemah 35,29%. Sementara Bank Amar (AMAR) menjadi yang paling mampu bertahan dengan koreksi 3,64% YTD.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama mengatakan pasar saat ini tidak lagi hanya melihat pertumbuhan laba, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan tersebut.

"Memang secara fundamental kinerja bank digital pada semester I-2026 menunjukkan perbaikan, baik dari sisi laba, efisiensi, maupun pertumbuhan penyaluran kredit. Namun investor masih cenderung menunggu bukti bahwa perbaikan tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang," kata Elandry kepada Bloomberg Technoz pada Kamis (30/7/2026).

Elandry menyebut, sebagian bank digital juga masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif tinggi dibandingkan bank konvensional sehingga ruang re-rating menjadi lebih terbatas. Selain itu, investor masih mencermati kualitas aset, biaya dana (cost of fund), kemampuan meningkatkan dana murah (CASA), hingga apakah pertumbuhan kredit tetap diiringi risiko kredit yang terkendali.

Selain itu, kondisi eksternal juga memengaruhi preferensi investor. Di tengah risk appetite global yang masih fluktuatif dan arus dana asing yang belum konsisten masuk ke pasar Indonesia, investor cenderung memilih saham perbankan besar yang menawarkan valuasi lebih murah dan dividen stabil.

Pergerakan harga saham bank digital saat ini bukan berarti pasar tidak mengapresiasi perbaikan kinerja, kata dia. Namun, investor masih membutuhkan keyakinan bahwa pertumbuhan laba tersebut bersifat berkelanjutan dan mampu menghasilkan profitabilitas yang konsisten.

“Jika hal itu mulai terlihat dalam beberapa kuartal ke depan, disertai perbaikan sentimen pasar dan masuknya kembali foreign flow, maka peluang re-rating saham bank digital akan semakin terbuka," ujar dia.

Di tengah tren tersebut, Super Bank menjadi salah satu bank digital yang membukukan pertumbuhan paling agresif pada semester I-2026. Perseroan mencatat laba bersih Rp183 miliar atau telah mencapai sekitar 53% dari estimasi laba sepanjang tahun.

Pertumbuhan tersebut didukung ekspansi ekosistem digital yang terintegrasi dengan Grab dan OVO. Total kredit melonjak 61% secara tahunan menjadi Rp13,4 triliun, DPK tumbuh 89% menjadi Rp15,9 triliun, sedangkan jumlah nasabah digital meningkat 86% menjadi 7,4 juta. Di saat yang sama, kualitas aset juga membaik dengan rasio gross NPL turun menjadi 1,6% dari 2,1% pada kuartal sebelumnya, sementara rasio cost-to-income membaik menjadi 54,8%.

Meski membukukan pertumbuhan yang kuat, saham SUPA juga belum lepas dari tekanan pasar. Sejak awal tahun, harga saham perseroan masih terkoreksi 35,29%, menunjukkan investor masih menunggu konsistensi pertumbuhan laba dan profitabilitas sebelum memberikan apresiasi valuasi yang lebih tinggi.

(dhf)

No more pages