Pihak Kremlin makin mengeraskan posisinya di tengah meningkatnya serangan balasan Ukraina jauh ke dalam wilayah Rusia, termasuk ke Moskow, yang merusak kilang-kilang minyak dan memicu krisis bahan bakar nasional. Trump juga menyatakan dukungannya terhadap rancangan undang-undang sanksi baru yang digagas oleh mendiang Senator Lindsey Graham, yang menyasar lima pembeli utama minyak dan gas Rusia dengan besaran tarif hingga 100%.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, tidak merespons permintaan konfirmasi terkait hal ini.
KTT antara Trump dan Putin merupakan pertemuan tatap muka terlama bagi kedua pemimpin dan berlangsung di tengah ekspektasi tinggi akan hadirnya terobosan untuk mengakhiri perang. Pada akhirnya, Putin meninggalkan Anchorage tanpa menyetujui gencatan senjata untuk memulai perundingan damai, sementara Trump menyatakan bahwa keputusan untuk membuat kesepakatan ada di tangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Negosiasi yang dipimpin AS antara Rusia dan Ukraina terkait kesepakatan damai mengalami jalan buntu sejak Februari lalu, seiring fokus pemerintahan Trump yang teralihkan pada perang dengan Iran.
Zelenskyy sempat menantang Putin dalam sebuah surat terbuka pada bulan Juni untuk bertemu dalam perundingan damai langsung demi mengakhiri perang yang kini memasuki tahun kelimanya. Namun, Putin menolak tawaran tersebut dan menegaskan bahwa pasukannya harus "terus bekerja."
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat ini tengah menghadiri pertemuan para menlu Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Filipina. Rubio menyampaikan pada hari Senin bahwa ia "terbuka" untuk berbicara dengan Lavrov di Manila, meski belum ada pihak yang mengonfirmasi kepastian pertemuan tersebut hingga saat ini.
Rusia telah meningkatkan intensitas serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal ke Kyiv serta kota-kota Ukraina lainnya dalam beberapa pekan terakhir. Pertempuran sengit terus berlanjut di wilayah Donetsk, berpusat di sekitar Konstiantynivka—sebuah pusat logistik strategis yang jika jatuh ke tangan Rusia akan membuka jalan menuju benteng pertahanan utama Ukraina di Kramatorsk dan Sloviansk.
Putin mendesak Ukraina untuk menyerahkan kendali atas wilayah di Donetsk yang gagal dikuasai pasukannya dalam pertempuran sejak 2014. Ukraina menolak mentah-mentah tuntutan tersebut dan mengusulkan penghentian perang di sepanjang garis depan yang ada saat ini.
Rusia baru bersiap kembali ke meja negosiasi setelah Putin mencapai target penguasaan Donetsk, menurut dua sumber yang dekat dengan Kremlin. Kementerian Pertahanan Rusia telah meyakinkan Putin bahwa mereka dapat merebut kendali penuh atas area tersebut pada akhir tahun ini, ungkap salah satu sumber.
Namun, banyak pihak di internal militer Rusia menganggap target waktu tersebut tidak realistis dan meyakini bahwa penguasaan penuh atas wilayah Donetsk baru akan terealisasi pada tahun 2027, menurut sumber yang dekat dengan Kementerian Pertahanan di Moskow.
Rubio menyampaikan kepada para wartawan pada 25 Juni bahwa "memang ada usulan di Alaska, namun tidak ada kesepakatan di Alaska" mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang. "Jika ada kesepakatan, kita pasti sudah melihat perang ini berakhir," tegasnya.
Lavrov merespons dalam sebuah pernyataan keesokan harinya dengan menyebut bahwa Putin telah memberikan tanggapan di Alaska terhadap usulan yang sebelumnya dibawa ke Moskow oleh utusan Trump, Steve Witkoff.
“Jika salah satu pihak, dalam hal ini Amerika Serikat, mengajukan usulannya untuk sebuah penyelesaian—untuk pendekatan dalam menyelesaikan krisis ini—dan pihak lainnya menyatakan persetujuan atas usulan tersebut, maka menyatakan bahwa tidak ada kesepakatan yang dicapai rasanya, kalau boleh dikatakan secara halus, kurang elok,” ujar Lavrov.
(bbn)

































