Saham Barito Renewables Energy (BREN) berhasil menguat 270 poin atau mencapai 8,74% di level Rp3.360/saham usai sebanyak 35 juta saham ditransaksikan. Adapun nilai transaksi saham BREN sepanjang hari ini mencapai Rp116 miliar.
Yang juga sama potensialnya, saham Barito Pacific (BRPT) mencatatkan kenaikan 95 poin dengan menguat 7,4% hingga ditutup di posisi Rp1.380/saham. Nilai transaksi jual–beli saham BRPT mencapai 387 juta saham dengan nilai Rp537 miliar.
Sepuluh saham teratas yang menopang IHSG, berdasarkan data Bloomberg, Rabu.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 10,01 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyumbang 9,44 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyumbang 5,37 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyumbang 5,19 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 4,71 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyumbang 3,62 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 3,36 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 3,21 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyumbang 3,16 poin
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyumbang 3,12 poin
Saham LQ45 unggulan turut menopang laju IHSG sepanjang hari hingga ditutup di teritori positif, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melesat 5,11%, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) melejit 4,85%. Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menguat 3,86%, dan saham PT Indosat Tbk (ISAT) meninggi 3,76%.
Menyusul saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 3,41%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terapresiasi 2,82%, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melaju dengan kenaikan 2,61%, dan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 2,27%.
Data Ekonomi RI Cenderung Lesu
Padahal, melansir Phintraco Sekuritas, data ekonomi domestik cenderung memburuk dibanding estimasi. Indeks S&P Global Manufacturing PMI, misalnya, turun di level 46,9 pada Juni 2026 dari sebelumnya 50 pada Mei 2026.
Pada Rabu, S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI), yang berada di bawah 50 menandakan aktivitas yang mengalami kontraksi, bukan ekspansi. Skor PMI 46,9 menjadi yang terendah dalam setahun.
“Permintaan baru (new orders) mengalami penurunan terdalam sejak April tahun lalu. Beban kerja yang menurun ikut menyebabkan penurunan pembelian bahan baku dan penciptaan lapangan kerja,” seperti yang disebutkan di keterangan tertulis S&P Global.
Sedang data inflasi meningkat di level 3,34% pada Juni 2026 dari yang sebelumnya 3,08% year–on–year pada Mei 2026, berada di atas estimasi yang sebesar 3,2% yoy.
Secara lebih detail, komoditas yang dominan mendorong inflasi adalah kenaikan harga bensin. Selain itu, tarif angkutan udara, dan oli mesin juga memberi andil terhadap inflasi.
Menurut BPS, dengan adanya dua kali kenaikkan BBM Non–Subsidi yang terjadi pada 1 juni 2026 dan 10 juni 2026, menjadi pendorong inflasi.
Terlebih lagi, neraca perdagangan secara tak terduga mencatatkan defisit sebesar US$1,61 miliar pada bulan Mei 2026, yang merupakan defisit pertama sejak April 2020.
Defisit tersebut pun juga berseberangan jauh dari proyeksi konsensus para ekonom dan analis yang mengestimasikan neraca dagang bakal mengalami perbaikan.
Lonjakan pertumbuhan impor yang diiringi oleh kontraksi ekspor menjadi pemicu utamanya
terang Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya siang hari ini, Rabu.
Pada Mei 2026, impor negara Indonesia mencatat kenaikan 22,16% year–on–year/yoy hingga tercatat sebesar US$24,81 miliar. Dilihat dari sisi penggunaannya, nilai impor pada Mei terjadi peningkatan pada seluruh golongan penggunaan secara tahunan.
Pada saat yang sama, ekspor Tanah Air justru turun 5,73% pada Mei hanya terbilang US$23,2 miliar. Sebagai catatan, nilai ekspor tersebut melambat dari yang semula mengalami pertumbuhan nilai ekspor pada April 2026 lalu.
“Nilai ekspor turun utamanya didorong oleh penurunan volume ekspor komoditas unggulan ekspor Indonesia, termasuk komoditas ferronickel dan batubara seiring penerapan RKAB tahun ini yang membatasi volume ekspor,” sebut Panin Sekuritas.
Lanjut dalam catatan yang sama, kedepannya, tren penyempitan net ekspor masih berlanjut seiring perlambatan permintaan manufaktur domestik dari pembeli luar negeri serta dorongan pertumbuhan domestik yang membutuhkan bahan baku industri impor.
Rupiah yang ditutup melemah 0,37% di level Rp17.948/US$, berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, juga menambah sentimen negatif.
Potensi IHSG Selanjutnya
Phintraco Sekuritas menganalisis, IHSG secara teknikal menunjukkan Stochastic RSI mendekati area oversold, bersamaan dengan MACD yang berpotensi mengalami death cross.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang berkonsolidasi pada kisaran 5.600–5.800,” papar Phintraco.
Sementara itu, menyitir Panin Sekuritas, IHSG berhasil ditutup di zona hijau, namun masih ditutup di bawah MA–5 di level 5.787.
Dengan begitu, selanjutnya IHSG harus mampu menembus level 5.787, sehingga berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance MA—20 mencapai level 6.000.
“Di sisi lain, support trendline jangka panjang di sekitar 5.450 sampai dengan titik previous low 5.318 diharapkan mampu menahan pergerakan IHSG,” terang Panin menyoal potensi IHSG esok hari.
(fad)


























