Logo Bloomberg Technoz

Namun, pada prospektus final jumlah tersebut dipangkas menjadi 266 juta saham atau sekitar 8,92% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum.

Dengan harga penawaran Rp900 per saham dan jumlah saham yang dilepas sebanyak 266 juta lembar, perseroan akan menghimpun dana segar sekitar Rp239,4 miliar.

Adapun, sekitar 56,70% dana hasil IPO akan digunakan untuk menambah penyertaan modal kepada anak usaha, PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS).

Dana tersebut akan dimanfaatkan NPS untuk pembelian, pelunasan, dan instalasi mesin produksi beserta peralatan pendukung guna meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor.

Selanjutnya, sekitar 10,04% dana IPO akan digunakan sebagai belanja modal perseroan, meliputi pembelian dan instalasi mesin produksi, peralatan, serta perlengkapan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan gudang dan mempercepat proses logistik.

Kemudian, sekitar 10,90% dana akan dialokasikan untuk melunasi seluruh pokok utang jangka pendek berupa fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK 2) kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk senilai Rp25 miliar.

Sementara itu, sisa sekitar 22,36% akan digunakan sebagai modal kerja, antara lain untuk pembelian bahan baku, pembayaran biaya operasional, serta kegiatan pemasaran.

Risiko Investasi

Dalam prospektus, perseroan mengungkapkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan calon investor.

Dari sisi eksternal, kondisi pasar modal Indonesia dinilai memiliki tingkat volatilitas yang relatif tinggi dibandingkan pasar negara maju.

Pergerakan harga saham setelah IPO dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari sentimen pasar, kondisi makroekonomi, perubahan regulasi, hingga perkembangan politik dan ekonomi global.

Selain itu, perseroan juga mengingatkan bahwa pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia tidak serta-merta menjamin likuiditas perdagangan saham di pasar sekunder.

Dengan demikian, terdapat kemungkinan saham perseroan tidak diperdagangkan secara aktif sehingga dapat memengaruhi kemudahan investor untuk menjual atau membeli saham di kemudian hari.

Di sisi fundamental, perseroan juga menyampaikan bahwa kinerja usaha dapat dipengaruhi oleh perubahan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar rupiah, perubahan preferensi konsumen, hingga meningkatnya persaingan di industri makanan dan minuman olahan.

Faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi pendapatan maupun profitabilitas perseroan pada masa mendatang.

(cpa/naw)

No more pages