Saham SpaceX sempat melonjak hingga 31% di atas harga IPO US$135 per saham sebelum ditutup menguat 19% pada level US$160,95. Dengan capaian tersebut, kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar US$2,2 triliun (Rp39.351 triliun), menjadikannya perusahaan publik dengan valuasi terbesar keenam di dunia pada hari pertama perdagangan.
Meski demikian, banyak pihak sebelumnya meragukan ambisi besar Musk dan mempertanyakan apakah perusahaan itu mampu mencatat debut spektakuler seperti yang terjadi saat ini.
Salah satu yang pernah meragukan pencapaian tersebut adalah Musk sendiri.
"Sulit dipercaya perusahaan kecil yang memulai usaha dari gudang di El Segundo kini melantai di bursa melalui IPO terbesar sepanjang sejarah," kata Musk dalam siaran langsung melalui X pada Jumat. "Jika dulu ada yang mengatakan ini akan terjadi, saya mungkin akan menganggapnya mustahil karena saya pikir perusahaan ini akan gagal."
Debut Bersejarah
Presiden SpaceX Gwynne Shotwell, Chief Financial Officer Bret Johnsen, dan ibu Elon Musk, Maye Musk, menghadiri seremoni pencatatan saham di Nasdaq MarketSite, Times Square, New York.
Sementara itu, Musk tetap berada di kantor pusat perusahaan di Starbase, Texas, dan membunyikan lonceng pembukaan perdagangan secara virtual. Sekitar satu jam sebelum pasar saham AS dibuka, SpaceX juga meluncurkan 29 satelit Starlink ke orbit menggunakan roket Falcon 9 dari Cape Canaveral, Florida.
IPO tersebut menarik permintaan lebih dari US$350 miliar (Rp6.260,45 triliun) dari investor institusi maupun ritel, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut. Bahkan hampir sepertiga investor yang mengajukan pesanan tidak memperoleh alokasi saham.
Investor ritel sendiri mencatat permintaan lebih dari US$100 miliar (Rp1.788,7 triliun), namun hanya memperoleh alokasi sekitar US$15 miliar (Rp268,31 triliun).
Meski antusiasme pasar sangat tinggi, sejumlah investor masih mempertanyakan apakah perusahaan yang belum mencatatkan laba layak memperoleh valuasi sebesar itu.
"Dari sisi fundamental, investor sudah terlalu jauh melangkah," kata Kepala Riset Energy Group Capital Amanda Lyons.
Menurutnya, jika menggunakan pendekatan penilaian berdasarkan unit bisnis, valuasi SpaceX hanya sekitar US$600 miliar (Rp10.732,2 triliun), atau sekitar sepertiga dari kapitalisasi pasar saat IPO.
"Namun selama satu dekade terakhir bertaruh melawan premium valuasi Elon Musk hampir selalu berakhir buruk," ujarnya.
Tidak semua pelaku pasar melihat debut SpaceX sebagai sinyal positif bagi pasar saham secara keseluruhan.
"Secara historis, setiap kali terjadi IPO dan aksi korporasi besar dalam skala yang sangat besar dibandingkan ukuran pasar atau ekonomi, investor biasanya disarankan lebih berhati-hati dan mengurangi risiko," kata pendiri Chanos & Co., Jim Chanos, kepada Bloomberg Television.
Status Baru Musk
Status Elon Musk sebagai triliuner pertama di dunia juga memicu kembali seruan dari sejumlah anggota Partai Demokrat agar pemerintah menerapkan pajak kekayaan bagi warga terkaya di Amerika Serikat.
Di sisi lain, investor ritel pendukung Musk justru merayakan pencapaian tersebut. Berdasarkan data awal Vanda Research Ltd., saham SpaceX menjadi saham yang paling banyak dibeli investor ritel pada hari pertama perdagangan, dengan nilai pembelian bersih lebih dari 3,5 kali lipat dibandingkan peringkat kedua, yakni saham Nvidia Corp.
Meski demikian, debut saham tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pengguna platform perdagangan Robinhood Markets Inc. sempat mengalami gangguan akses pada menit-menit awal perdagangan akibat lonjakan trafik yang sangat tinggi.
Terlepas dari gangguan tersebut, debut saham SpaceX dinilai berlangsung relatif tertib dengan kenaikan harga yang masih dianggap wajar untuk perusahaan teknologi yang sangat dinantikan pasar.
"Kenaikan awalnya masih berada dalam rentang normal untuk saham teknologi," kata Managing Director SLC Management Dec Mullarkey. "Basis investornya terdiri dari mereka yang percaya Musk memiliki sentuhan emas dan para trader teknikal. Keduanya saling menyeimbangkan."
Tantangan Belum Berakhir
Meski mencatat debut yang kuat, kenaikan harga saham pada hari pertama tidak menjamin kinerja jangka panjang.
SpaceX masih harus membuktikan ambisinya mendominasi industri AI, mewujudkan perjalanan manusia ke Bulan dan Mars, serta mempertahankan model tata kelola perusahaan yang memberikan kendali hampir penuh kepada Musk.
Data Bloomberg menunjukkan rekor kenaikan hari pertama terbesar untuk IPO AS dengan nilai penghimpunan dana minimal US$1 miliar masih dipegang oleh Figma Inc., yang melonjak 250% pada debutnya tahun 2025. Namun, saham perusahaan perangkat lunak desain tersebut kemudian kehilangan seluruh kenaikannya dan kini diperdagangkan sekitar 45% di bawah harga IPO.
Laporan Trivariate Research tahun lalu menunjukkan perusahaan dengan laba bersih negatif cenderung berkinerja lebih rendah lebih dari 10% dalam 18 bulan pertama setelah IPO dibandingkan perusahaan yang sudah menghasilkan keuntungan.
SpaceX sendiri mencatat rugi bersih sebesar US$4,28 miliar (Rp76,55 triliun) pada kuartal pertama 2026.
IPO SpaceX dipimpin oleh Goldman Sachs Group Inc., Morgan Stanley, Bank of America Corp., Citigroup Inc., dan JPMorgan Chase & Co. bersama 18 bank lainnya.
Dengan sejumlah analis Wall Street mulai memasang target harga hingga US$190 per saham, perdebatan mengenai mimpi Musk menjadikan manusia sebagai spesies multiplanet baru saja dimulai.
(bbn)



























