Logo Bloomberg Technoz

Kabar dari Timur Tengah masih menjadi beban bagi harga emas. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat saling serang di tengah upaya negosiasi perdamaian.

Pihak AS menyebut telah mencegat kapal tanker minyak kosong yang menuju ke Iran. Setelah upaya tersebut, Iran menyerang dengan pesawat tanpa awak (drone) dan misil.

Bahkan kini Kuwait dan Bahrain menjadi korban karena berada di tengah konflik tersebut. Iran menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

“Timur Tengah masih menjadi sumber utama ketidakpastian. Kabar yang datang akan mempengaruhi pasar. Siklus eskalasi dan de-eskalasi membuat situasi menjadi menantang bagi investor untuk mengukur risiko,” tutur Ahmad Assiri, Market Strategist di Pepperstone Group Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Konflik yang kembali memanas di wilayah tersebut membuat harga minyak melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent naik hampir 2% dan ditutup di US$ 97,81/barel.

Apabila Timur Tengah terus panas dan harga energi naik tidak terkendali, maka dunia akan dihantui ancaman inflasi tinggi. Akibatnya, tentu sulit bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi.

(aji)

No more pages