“Kalau market membaik, makro ekonomi global dan lokal membaik, saham-saham itu pasti akan ikut naik,” jelas Hery.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Finance & Strategy BBRI, Achmad Royadi mengatakan, pergerakan harga saham tidak semata ditentukan oleh fundamental perusahaan, tetapi juga dipengaruhi sentimen global serta persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Kita sama-sama tahu bahwa harga saham banyak faktor. Tidak hanya dari fundamental, tapi juga sentimen global dan persepsi investor terhadap Indonesia maupun pasar modal,” tutur Achmad.
Ia menegaskan, dari sisi fundamental, kinerja BBRI pada kuartal I-2026 tergolong kuat. Hal ini tercermin dari kualitas aset yang terjaga, perbaikan biaya dana (cost of fund), permodalan yang solid, serta pertumbuhan laba bersih yang tetap positif.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga saham BBRI yang masih terkoreksi sekitar 16% secara year-to-date lebih banyak berasal dari faktor eksternal dibandingkan kinerja internal perseroan.
Dividen yang dibagikan juga cerminan komitmen BBRI dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terbaru, BBRI menetapkan pembagian dividen sebesar 92% dari laba tahun buku 2025, atau setara Rp346 per saham.
“Ini bagian dari upaya kami mengembalikan nilai kepada pemegang saham atas kinerja yang telah dicapai,” jelasnya.
(dhf)































