Logo Bloomberg Technoz

Selain dari negara timur tengah, Moshe menilai impor minyak mentah yang dilakukan Indonesia dari Afrika tetap dapat dilakukan secara normal.

Terkait dengan hal itu, Moshe mencatat minyak mentah Indonesia justru mayoritas diimpor dari negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Angola.

“Jadi kalau kita masalah kelangkaan BBM, enggak juga. Kelangkaan misalkan menutup minyak mentah, sebenarnya masih ada dan masih bisa kita beli,” tegas Moshe.

Adapun, berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN), sumber impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.

Antara lain Nigeria sekitar 25%, Angola 21%, Arab Saudi sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, AS, dan Malaysia. 

Sementara impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.

Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain; China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

Sekadar informasi, Saudi Aramco mulai menawarkan pasokan minyak mentah darurat melalui serangkaian tender langka di pasar spot, usai penutupan efektif Selat Hormuz menghambat pengiriman dan memaksa pengalihan arus melalui Laut Merah.

Eksportir minyak mentah terbesar di dunia ini telah menawarkan tiga jenis — Arab Extra Light, Arab Heavy, dan andalannya Arab Light — menurut para pedagang yang memiliki pengetahuan langsung tentang masalah ini.

Mereka telah menawarkan total sekitar 4,6 juta barel dari jenis-jenis tersebut dalam beberapa hari terakhir, kata para pedagang kepada Bloomberg News.

Sebagian minyak ditawarkan berdasarkan pengiriman dari supertanker, yang membawa 2 juta barel minyak mentah, yang ditempatkan di dekat Taiwan, yang akhirnya dibeli oleh perusahaan kilang Jepang, kata para pedagang.

Sisanya akan dimuat di pelabuhan Yanbu di pantai Laut Merah Arab Saudi, serta dari Ain Sokhna di Mesir.

Belum ada minyak mentah Saudi yang dikirim melalui titik rawan Selat Hormuz sejauh bulan ini. Kapal tanker terakhir yang berhasil melewati selat tersebut adalah New Vision, yang melintas malam pada 28 Februari, menurut data pelacakan kapal.

Adapun, PT Pertamina International Shipping (PIS) melaporkan terdapat empat kapal yang berada di kawasan Timur Tengah, yakni; Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak, Pertamina Pride yang tengah melakukan proses muat di Ras Tanura, PIS Rinjani dalam posisi lego jangkar di Khor Fakkan, serta PIS Paragon di Oman.

Dua kapal masih berada di dalam area teluk, yaitu Pertamina Pride yang dikelola NYK dan Gamsunoro yang dikelola Synergy Ship Management.

PIS menyatakan tengah melakukan koordinasi dengan pengelola kapal dan otoritas maritim setempat guna memastikan keselamatan kru dan kapal serta mengupayakan kapal dapat segera keluar dari area teluk.

Belum diketahui berapa kapasitas tanker minyak PIS yang terjebak di Selat Hormuz.

Namun, berdasarkan data pelacakan Kpler, saat ini setidaknya terdapat 40 kapal tanker minyak berkapasitas sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) alias supertanker, yang masing-masing mengangkut sekitar 2 juta barel minyak dan sedang menunggu di Teluk Persia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut tengah mencari alternatif pasokan minyak dari Amerika Serikat (AS), usai dua kapal tanker minyak milik PIS terjebak di Selat Hormuz.

Bahlil menyatakan dua kapal tanker tersebut sedang bersandar di lokasi yang lebih aman dan pada saat bersamaan pemerintah melakukan negosiasi secara insentif agar kapal tersebut dapat diberangkatkan ke Indonesia.

“Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman. Sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026) malam.

(azr/wdh)

No more pages