Bonus Demografi RI Bisa Jadi Malapetaka, Kenapa?
Referensi
19 July 2025 14:58

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mantan Ketua Umum KADIN Indonesia, yang juga pengusaha Arsjad Rasjid, mengingatkan bahwa Indonesia tengah berada di ambang krisis ketenagakerjaan jika tidak segera melakukan langkah konkret untuk membuka lapangan kerja.
Dalam acara “Meet The Leaders” di Universitas Paramadina, ia menegaskan bahwa bonus demografi yang kerap dibanggakan justru bisa menjadi bumerang apabila tidak dikelola dengan serius.
“Bonus demografi bisa jadi malapetaka jika lapangan kerja tidak tersedia. Kita punya tenaga produktif, tapi tidak ada pekerjaan untuk mereka. Ini PR besar bangsa,” ujar Arsjad dalam forum yang dihadiri civitas akademika dan pelaku usaha tersebut dikutip Sabtu (19/7/2025).
Arsjad menyampaikan bahwa situasi global yang bergejolak—mulai dari konflik Rusia-Ukraina, dampak geopolitik Timur Tengah, hingga penurunan ekonomi Tiongkok—telah berimbas secara tidak langsung terhadap ekonomi nasional. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 4,7 persen, ia menyoroti persoalan daya beli masyarakat yang terus menurun.
“Sekarang bukan cuma soal pertumbuhan ekonomi, tapi soal realitas bahwa masyarakat tidak punya uang. Daya beli turun, dan itu sinyal serius,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan fakta bahwa jumlah pengangguran masih tinggi, dengan 7,28 juta orang tidak memiliki pekerjaan. Ironisnya, meski tingkat pengangguran terbuka turun, jumlah pengangguran justru meningkat. Lebih dari itu, sekitar 60% tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal, mencerminkan rapuhnya struktur ketenagakerjaan nasional.
Menurut Arsjad, ada dua pilar utama yang menopang ekonomi masyarakat: pedagang yang hidup dari laba usaha dan pekerja yang menggantungkan hidup dari upah dan bonus. Ketika keduanya terganggu, maka ekonomi nasional akan terpukul.
3G: Solusi Strategis untuk Pertumbuhan Inklusif
Untuk menjawab tantangan tersebut, Arsjad menawarkan pendekatan “3G” sebagai strategi struktural dalam menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Ketiga pilar tersebut adalah:
1. Grow People
Membangun SDM unggul yang siap bersaing secara global. Arsjad menyoroti bahwa hanya 10% angkatan kerja Indonesia lulusan perguruan tinggi. Mayoritas justru lulusan SD dan SMP. Ia juga menyinggung penurunan IQ Indonesia sebagai indikator menurunnya kualitas pendidikan.
2. Gear Up Industry
Menghidupkan kembali industrialisasi dengan basis nilai tambah. Strateginya mencakup hilirisasi mineral, penguatan manufaktur strategis, serta pemerataan industri hingga ke luar Pulau Jawa. UMKM juga disebut sebagai bagian penting dalam ekosistem industri nasional.
3. Go Green
Menjadikan transisi energi sebagai peluang, bukan beban. Ini termasuk pelatihan ulang tenaga kerja di sektor padat emisi, pembiayaan hijau untuk UMKM, dan pelibatan masyarakat lokal dalam proyek-proyek energi terbarukan.
Investasi dan Eksodus Talenta
Arsjad juga menyoroti sulitnya menarik investasi padat karya akibat rumitnya proses perizinan, konflik lahan, hingga praktik premanisme. Padahal, investasi adalah kunci utama penciptaan lapangan kerja. Tak heran jika talenta Indonesia kini banyak “kabur” ke luar negeri.
“Perawat, ahli IT, insinyur kita lebih memilih kerja di luar negeri karena gaji bisa 5-8 kali lipat lebih tinggi, dengan jalur karier dan jaminan sosial yang lebih baik. Ini bukan soal kurang cinta tanah air, tapi soal realitas ekonomi,” jelasnya.
Di akhir paparannya, Arsjad menegaskan bahwa tantangan ke depan memerlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia usaha, dan akademisi harus bergandengan tangan untuk memastikan bonus demografi menjadi berkah, bukan bencana.
(seo)


















