“Natuna D-Alpha harus konsorsium ga mungkin sendirian,” kata Rikky.
Proyek gas yang bersinggungan langsung dengan Laut China Selatan (LCS) itu mangkrak lebih dari setengah abad, sejak pertama kali ditemukan pada 1973.
Kufpec mulai melakukan joint study di prospek Natuna D-Alpha pada 2024, setelah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengembalikan blok tersebut kepada pemerintah dua tahun sebelumnya.
Serampung joint study, Kufpec mengundang sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) potensial untuk ikut bergabung pada megaproyek tersebut.
Sejumlah KKKS yang didekati memiliki portofolio di lepas pantai Kepulauan Natuna. Beberapa nama yang sempat berseliweran di antaranya PHE dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).
Kendati demikian, bos MEDC Hilmi Panigoro sebelumnya menampik ihwal keterlibatan grupnya pada megaproyek tersebut. “Tidak ikut,” kata Hilmi di sela pergelaran IPA Convex di ICE BSD, Selasa (20/5/2025).
PHE Tarik Diri
Sementara itu, sumber Bloomberg Technoz menuturkan, PHE belakangan menarik diri dari tawaran yang diajukan Kufpec.
Alasannya, perusahaan negara itu ingin fokus untuk mengembangkan Blok East Natuna, portofolio PHE yang bersebelahan dengan struktur gas Natuna D-Alpha.
“PHE sudah tidak tertarik untuk D-Alpha, sedang fokus blok East Natuna, tidak termasuk D-Alpha,” kata sumber.
Sementara itu, sumber Bloomberg Technoz menuturkan, PHE belakangan menarik diri dari tawaran yang diajukan Kufpec.
Alasannya, perusahaan negara itu ingin fokus untuk mengembangkan Blok East Natuna, portofolio PHE yang bersebelahan dengan struktur gas Natuna D-Alpha.
“PHE sudah tidak tertarik untuk D-Alpha, sedang fokus blok East Natuna, tidak termasuk D-Alpha,” kata sumber.
Susi menerangkan penjajakan itu sejalan dengan evaluasi eksplorasi Shell Global.
“Termasuk melalui proses kesepakatan studi bersama hulu migas,” kata Susi saat dikonfirmasi.
Susi enggan berkomentar terkait dengan persamuhan yang tengah berlangsung dengan Kufpec untuk pengembangan Natuna D-Alpha.
(naw)
































