Sementara itu, diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Dalam kondisi ini, pola makan memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas gula darah.
Peran Indeks Glikemik dalam Pola Makan
Tidak semua karbohidrat berdampak sama terhadap kadar gula darah. Di sinilah indeks glikemik atau GI menjadi acuan penting dalam memilih makanan sehari-hari.
GI merupakan sistem peringkat yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi. Semakin tinggi nilainya, semakin cepat lonjakan glukosa terjadi.
Makanan dengan GI Tinggi dan Rendah
Makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti roti putih dan minuman manis, menyebabkan kenaikan gula darah secara drastis dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat memicu kelelahan dan rasa lapar lebih cepat.
Sebaliknya, makanan dengan GI rendah seperti lentil, oat, dan sebagian besar sayuran membantu melepaskan gula secara perlahan. Efeknya, energi lebih stabil dan risiko lonjakan gula darah dapat ditekan.
Daftar Makanan yang Lebih Berbahaya dari Gula Pasir
Sejumlah makanan berikut disebut mampu meningkatkan gula darah lebih cepat dibandingkan gula pasir biasa, meskipun sering dikonsumsi tanpa rasa bersalah.
1. Roti Putih
Roti putih terbuat dari tepung olahan yang minim serat. Proses pencernaannya berlangsung cepat sehingga glukosa langsung masuk ke aliran darah.
2. Nasi Putih
Nasi putih merupakan sumber karbohidrat utama di banyak negara. Namun, kandungan seratnya yang rendah membuatnya mudah meningkatkan kadar gula darah.
3. Cornflakes dan Sereal Olahan
Sereal sarapan olahan seperti cornflakes dicerna dengan sangat cepat. Kecepatan ini memicu lonjakan glukosa, terutama jika dikonsumsi tanpa protein pendamping.
4. Kentang Goreng
Kentang goreng mengalami proses pengolahan yang mengubah pati menjadi glukosa dengan cepat. Selain itu, kandungan lemaknya memperburuk dampak metabolik.
5. Mi Instan
Mi instan telah melalui proses pengolahan tinggi. Kandungan karbohidrat sederhana dan rendah serat menjadikannya pemicu lonjakan gula darah.
6. Jus Buah
Meski berasal dari buah, jus buah kehilangan sebagian besar serat alaminya. Tanpa serat, gula alami dalam buah lebih cepat diserap tubuh.
Pemicu Gula Darah yang Sering Tak Disadari
Selain makanan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengungkap sejumlah faktor non-makanan yang sering mengejutkan banyak orang.
Stres Akibat Sengatan Matahari
CDC menyebut sengatan matahari dapat menyebabkan stres fisik. Kondisi stres ini memicu tubuh melepaskan hormon yang meningkatkan kadar gula darah.
Dehidrasi
Kekurangan cairan membuat gula darah menjadi lebih pekat. Dehidrasi ringan sekalipun dapat berdampak signifikan pada kadar glukosa.
Penggunaan Semprotan Hidung
Beberapa semprotan hidung mengandung bahan kimia tertentu. Zat ini dapat merangsang hati untuk memproduksi lebih banyak gula darah.
Kurang Tidur
Kurang tidur, bahkan hanya satu malam, dapat mengganggu efektivitas insulin. Akibatnya, tubuh menjadi kurang efisien dalam mengelola glukosa.
Pola Makan Tidak Sehat dan Dampak Global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa pola makan tidak sehat merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit kronis. Penyakit tersebut meliputi gangguan kardiovaskular, kanker, diabetes, dan kondisi terkait obesitas.
WHO juga mencatat bahwa pola makan tidak sehat menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit tidak menular. Pada tahun 2021, jumlahnya mencapai setidaknya 43 juta jiwa secara global.
Angka tersebut setara dengan 75 persen dari seluruh kematian non-pandemi di dunia. Fakta ini menegaskan pentingnya kesadaran terhadap kualitas makanan harian, bukan hanya jumlah gula yang dikonsumsi.
Kesadaran Baru dalam Memilih Pangan
Peringatan para ahli ini mendorong masyarakat untuk lebih cermat membaca jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Makanan yang tampak sederhana dan biasa justru dapat membawa risiko tersembunyi.
Dengan memahami indeks glikemik dan faktor pemicu lain, penderita diabetes maupun masyarakat umum dapat mengambil langkah lebih bijak. Tujuannya bukan sekadar menghindari gula, tetapi menjaga keseimbangan metabolik secara menyeluruh.
(seo)






























