Sebagai ilustrasi, seseorang yang membutuhkan Rp240 juta per tahun saat pensiun akan memerlukan sekitar Rp6 miliar berdasarkan Rule of 25.
Tidak Semua Biaya Pensiun dari Investasi
Kesalahan umum dalam menerapkan Rule of 25 adalah menganggap seluruh biaya hidup harus ditutup dari investasi pribadi. Pendekatan ini sering kali membuat target dana terlihat terlalu besar dan menakutkan.
Alex Caswell, financial adviser dan pendiri Wealth Script Advisors, menegaskan bahwa Rule of 25 hanya berlaku untuk pengeluaran yang benar benar perlu ditutup dari portofolio investasi.
Jika sebagian kebutuhan sudah ditopang pendapatan lain seperti dana pensiun perusahaan atau sewa properti, maka dana investasi yang dibutuhkan jauh lebih kecil.
Contohnya, dari kebutuhan Rp240 juta per tahun, jika Rp96 juta sudah ditutup pendapatan tetap, maka investasi hanya perlu menghasilkan Rp144 juta per tahun. Dengan Rule of 25, target dana turun menjadi Rp3,6 miliar.
Persepsi Masyarakat soal Dana Pensiun
Pandangan masyarakat terhadap dana pensiun juga terus berubah. Studi Northwestern Mutual tahun 2025 menunjukkan bahwa masyarakat Amerika memperkirakan membutuhkan US$1,26 juta untuk pensiun nyaman.
Angka tersebut justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$1,46 juta. Penurunan ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi terhadap realitas ekonomi dan pasar yang lebih volatil.
Namun, angka rata rata seperti ini kerap menyesatkan jika dijadikan patokan tunggal. Kebutuhan pensiun sangat bergantung pada gaya hidup, kondisi keluarga, dan sumber pendapatan masing masing individu.
Kelebihan Rule of 25 sebagai Panduan Awal
Meski sederhana, Rule of 25 tetap memiliki peran penting dalam perencanaan keuangan. Aturan ini sering dipakai sebagai langkah awal untuk memahami skala kebutuhan dana pensiun.
Manfaat Utama Rule of 25
-
Memberi gambaran kasar target dana pensiun
-
Membantu mengevaluasi posisi keuangan saat ini
-
Menjelaskan konsep kemandirian finansial secara sederhana
Dengan satu angka acuan, banyak orang menjadi lebih sadar bahwa pensiun memerlukan perencanaan jangka panjang dan disiplin menabung.
Keterbatasan Rule of 25 yang Perlu Dicermati
Para perencana keuangan sepakat bahwa Rule of 25 tidak bisa digunakan secara mentah. Tanpa penyesuaian, aturan ini berpotensi menyesatkan.
Mengabaikan Kondisi Individu
Scott Bishop, partner dan managing director di Presidio Wealth Partners, menyebut Rule of 25 tidak mempertimbangkan toleransi risiko, struktur pajak, pendapatan terjamin, dan risiko urutan imbal hasil.
Faktor faktor tersebut sangat menentukan ketahanan dana pensiun dalam jangka panjang, terutama saat pasar bergejolak.
Asumsi Pengeluaran yang Terlalu Datar
Philly Ponniah, chartered wealth manager di Philly Financial, menilai Rule of 25 mengasumsikan pola pengeluaran pensiun yang stabil.
Pada kenyataannya, pengeluaran sering lebih tinggi di awal pensiun untuk perjalanan dan hobi, menurun di usia menengah, lalu naik kembali akibat biaya kesehatan.
Risiko Inflasi dan Biaya Kesehatan
Rule of 25 tidak menghitung secara mendalam dampak inflasi jangka panjang dan lonjakan biaya kesehatan. Padahal, dua faktor ini dapat menggerus daya beli dana pensiun secara signifikan.
Usia Harapan Hidup yang Makin Panjang
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, risiko kehabisan dana di usia lanjut semakin besar. Aturan penarikan 4 persen pun mulai dipertanyakan relevansinya dalam kondisi saat ini.
Peran Pendapatan Negara dalam Perhitungan
Pendapatan dari negara sering kali diabaikan dalam perhitungan Rule of 25. Padahal, kontribusinya bisa sangat besar dalam menurunkan kebutuhan dana investasi.
Scott Gallacher, direktur di Rowley Turton, mencontohkan pasangan dengan kebutuhan Rp30 juta per tahun. Jika dihitung mentah dengan Rule of 25, angka yang muncul terlihat sangat besar.
Namun, ketika pendapatan pensiun negara mulai diterima, kebutuhan dana dari investasi pribadi bisa turun drastis. Dalam banyak kasus, total dana yang dibutuhkan bahkan hampir setengah dari estimasi awal.
Menurut Gallacher, angka headline yang terlalu besar justru berisiko membuat orang enggan mulai menabung karena merasa targetnya mustahil dicapai.
Rule of 25 Bukan Formula Mutlak
Ross Lacey dari Fairview Financial Management menegaskan bahwa Rule of 25 hanyalah aturan praktis. Setiap individu memiliki kombinasi sumber pendapatan yang unik.
Sumber tersebut bisa berasal dari dana pensiun berbasis gaji, properti sewaan, bisnis, hingga pelepasan ekuitas rumah. Semua ini membuat kebutuhan dana pensiun menjadi sangat personal.
Cara Mempersonalisasi Rule of 25
Agar lebih realistis, Rule of 25 perlu disesuaikan dengan kondisi masing masing individu.
Susun Anggaran Pensiun Detail
Mulailah dari pengeluaran aktual hari ini, lalu sesuaikan dengan rencana gaya hidup saat pensiun.
Hitung Semua Sumber Pendapatan
Kurangi kebutuhan investasi dengan pendapatan terjamin seperti pensiun, sewa properti, atau kerja paruh waktu.
Perhatikan Pajak
Dana di rekening kena pajak, bebas pajak, dan ditangguhkan pajak memiliki nilai bersih yang berbeda saat ditarik.
Gunakan Rentang Angka
Buat skenario konservatif hingga optimistis agar lebih siap menghadapi perubahan kondisi hidup.
Pendekatan Realistis untuk Karyawan Swasta
Menyiapkan dana pensiun tidak harus bergantung sepenuhnya pada pasar modal. Pendekatan paling aman adalah membangun beberapa sumber dana sekaligus.
Petakan Semua Sumber Dana
-
Dana pensiun perusahaan atau DPLK
-
BPJS Ketenagakerjaan JHT dan JP
-
Properti sewaan
-
Bisnis yang masih berjalan
-
Pekerjaan paruh waktu
-
Tabungan tunai
Setelah itu, hitung bagian pengeluaran yang belum tertutup dan perlu dibiayai dari aset pribadi.
Rule of 25 Setelah Dikurangi Pendapatan Tetap
Rule of 25 hanya berlaku untuk selisih antara kebutuhan hidup dan pendapatan tetap. Dengan cara ini, target dana menjadi jauh lebih realistis.
Bangun Aset Penghasil Arus Kas
Dana pensiun bisa berasal dari kontrakan, kos, kios, royalti, lisensi, hingga keahlian yang dijalankan secara paruh waktu.
Rule of 25 tetap relevan sebagai titik awal perencanaan dana pensiun, terutama bagi karyawan swasta yang harus mandiri. Namun, aturan ini bukan jawaban final.
Terlalu fokus pada satu angka justru dapat mengaburkan tujuan utama pensiun, yaitu menjaga kualitas hidup secara berkelanjutan. Seperti ditegaskan Scott Bishop, perencanaan pensiun seharusnya tidak hanya membahas angka, tetapi juga kesehatan, tujuan hidup, dan fleksibilitas finansial.
Rule of 25 adalah sketsa awal, bukan cetak biru. Dana pensiun yang benar benar cukup akan selalu bergantung pada cara hidup dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan ekonomi di masa depan.
(seo)





























