“Apakah pelaku usaha ekspansif? Ini kalau kita lihat tergantung. Ada sebagian pengusaha masih ekspansi, ada sebagian juga yang wait and see,” katanya.
Menurut Hendra, dinamika geopolitik global, termasuk perubahan kebijakan tarif, turut memengaruhi kehati-hatian dunia usaha. Meski demikian, arus investasi asing, khususnya dari China, dinilai masih cukup aktif dan berpotensi mendorong pertumbuhan kredit.
“Tapi kita lihat investasi dari luar negeri, terutama dari China, masih cukup banyak yang masuk. Dan biasanya mereka partner dengan nasabah-nasabah kita,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, kredit korporasi BCA pada 2025 mencatatkan pertumbuhan yang solid. Manajemen mencatat kredit korporasi tumbuh 11,5% sepanjang tahun lalu, dengan komposisi yang didominasi oleh kredit investasi.
“Dan penggunaannya sebagian besar di kredit investasi, 301 miliar, sedangkan modal kerja 9[miliar],” jelas manajemen.
Kontribusi kredit korporasi terhadap total portofolio kredit BCA mencapai 48% pada akhir 2025, mencerminkan peran signifikan segmen ini dalam keseluruhan penyaluran kredit perseroan.
Memasuki 2026, BCA membidik pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) di kisaran 8-10%. Manajemen menyebut tantangan dalam mencapai target tersebut merupakan kondisi yang dihadapi setiap tahun, namun tetap diupayakan untuk diantisipasi.
“Mengenai pertanyaan pertumbuhan kredit dan DPK di tahun 2026, tadi kita sudah sampaikan ya. 8-10%. Kira-kira tantangan untuk merealisasikan, tantangan selalu sedang setiap tahun. Semoga kita bisa ada solusinya untuk semua tantangan di tahun 2026,” ujar Hendra.
Sebagai informasi, hingga Desember 2025 total kredit BCA dan entitas anak tumbuh 7,7% secara tahunan menjadi Rp993 triliun, dengan pertumbuhan kredit rata-rata mencapai 10,8% sepanjang tahun. Kredit usaha tercatat tumbuh 9,9% YoY menjadi Rp756,5 triliun, sementara pembiayaan konsumer terjaga di Rp224,1 triliun.
Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga BCA meningkat 10,2% YoY menjadi Rp1.249 triliun, didukung pertumbuhan dana giro dan tabungan (CASA) sebesar 13,1% YoY menjadi Rp1.045 triliun. Kualitas aset tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,7% dan loan at risk (LAR) yang membaik ke level 4,8%.
Manajemen menegaskan, strategi BCA ke depan tetap berfokus pada pengelolaan risiko yang prudent, dukungan terhadap sektor-sektor produktif, serta optimalisasi layanan dan digitalisasi untuk menjaga pertumbuhan kredit yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
(ell)





























