Logo Bloomberg Technoz

“Kembalinya harga konsumen ke wilayah inflasi mencerminkan dorongan sementara akibat liburan yang akan segera memudar. Dengan kata lain, tekanan deflasi masih mengakar dan perlambatan pertumbuhan di kuartal IV tidak akan banyak mengubah tren ini.” kata Eric Zhu, Ekonom Bloomberg Economics

Deflasi di tingkat pabrik (factory-gate) juga mulai mereda, meski masih berlangsung selama 37 bulan berturut-turut. Indeks harga produsen (PPI) turun 2,1% secara tahunan, dibandingkan penurunan 2,3% pada September.

China dalam beberapa bulan terakhir memang menghadapi tekanan deflasi, dengan harga yang mencatat penurunan pada Agustus dan September sebelum akhirnya kembali ke zona inflasi.

Deflasi yang berkepanjangan mendorong konsumen menunda pembelian, meningkatkan beban utang, serta menekan margin keuntungan menciptakan risiko spiral pelemahan konsumsi dan investasi.

Memutus siklus tersebut kini menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah. Beijing telah meluncurkan kampanye “anti-involution”, upaya untuk mengakhiri perang harga yang melanda berbagai industri, mulai dari kendaraan listrik hingga layanan pesan-antar makanan.

Namun, kemajuannya masih terbatas, sebab pemerintah berhati-hati terhadap risiko kehilangan lapangan kerja dan perlambatan ekonomi lebih lanjut.

Meskipun China diperkirakan masih akan mencapai target pertumbuhan sekitar 5% tahun ini, ekspansi produk domestik bruto nominal melambat akibat penurunan harga.

Deflator PDB, ukuran harga paling luas telah mengalami kontraksi selama lebih dari dua tahun, menjadi periode terpanjang sejak data kuartalan mulai dicatat pada 1993.

Pemerintah menurunkan target resmi inflasi konsumen menjadi sekitar 2% tahun ini, level terendah dalam lebih dari dua dekade. Meski demikian, laju pertumbuhan harga sebagian besar tahun 2025 masih berada di kisaran nol hingga negatif.

(bbn)

No more pages