Eniya menegaskan ketiga blok panas bumi yang dilelang tersebut telah masuk ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN 2025-2034.
“Ini semua tiga-tiganya sudah masuk RUPTL,” kata Eniya.
Sementara itu, 7 PSPE lainnya tersebar di Bandar Baru dengan potensi setrum sekitar 25 MW sampai dengan 40 MW, Jenawi di Jawa Tengah dengan potensi setrum 86 MW, Gunung Tampomas, Jawa Barat dengan potensi 30 MW dan Kadidia di Sulawesi Tengah dengan potensi cadangan 40 MW.
Selanjutnya, PSPE lainnya tersebar di Cubadak dan Panti yang berlokasi di Sumatra Barat dengan potensi listrik masing-masing 40 MW, Cisurupan Kertasari di Jawa Barat dengan potensi 20 MW dan Bittuang di Sulawesi Selatan dengan kapasitas 20 MW.
“PSPE itu statusnya penugasan, nanti kira-kira 1 bulan bisa diumumkan,” kata Eniya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas terpasang panas bumi yang telah masuk ke jaringan listrik PLN telah mencapai 2,7 gigawatt (GW) per September 2025.
Sejumlah proyek pembangkit panas bumi baru belakangan beroperasi komersial di antaranya PLTP Ijen dengan kapasitas 35 MW pada awal Februari 2025 lalu.
Pembangkit listrik panas bumi ini dikelola PT Medco Cahaya Geothermal (MCG), kongsi usaha PT Medco Power Indonesia (51%) bersama dengan Ormat Geothermal Power (49%).
Selanjutnya, PLTP Lumut Balai Unit 2 garapan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dengan kapasitas 55 MW telah beroperasi akhir Juni 2025 lalu.
PLTP Lumut Balai Unit 2 akan menambah kapasitas panas bumi di Area Lumut Balai sebesar 55 MW, sehingga total kapasitas area ini mencapai 110 MW.
Rencananya, Presiden Prabowo Subianto bakal meresmikan langsung proyek ekspansi PLTP Lumut Balai Unit 2 itu bulan depan.
“Nanti bapak Presiden yang InsyaAllah akan melakukan peresmian di lokasi. Saya sudah mintain waktunya, cuma kemarin masih padat-padat,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka acara (IIGCE) 2025, Jakarta, Rabu (17/9/2025).
(naw)






























