Kemudian, PLTP itu akan mendukung sekitar 396 perjalanan kereta cepat Jakarta—Bandung (Whoosh), mengisi penuh sekitar 23.700 mobil listrik, atau menopang operasional sekitar 2 hingga 5 pusat data bertipe hyperscale.
Sebelumnya, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan tahap operasi komersial penuh atau commissioning operation date (COD) ditargetkan akhir Juni 2025.
Sinkronisasi dilakukan pada kapasitas awal sebesar 10% dari total daya terpasang PLTP Lumut Balai Unit 2 mencapai 55 megawatt MW. Tahapan ini menandai pertama kalinya listrik dari unit pembangkit disalurkan ke jaringan listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Operasional PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani menyampaikan sinkronisasi ini merupakan langkah penting karena listrik dari pembangkit mulai disalurkan ke jaringan listrik PLN.
“Ini juga merupakan milestone penting yang menunjukkan progres proyek berada di jalur yang tepat. Kami berkomitmen untuk menyelesaikan tahap COD sesuai target waktu dan menghadirkan kontribusi nyata terhadap bauran energi bersih nasional, ” kata Ahmad Yani dalam keterangan resmi, medio Juli.
Dalam keterangan pers yang sama, kala itu, Project Manager PGE Proyek Lumut Balai Unit 2 Achmad Sri Fadli menjelaskan sinkronisasi pertama tersebut dilakukan setelah melalui serangkaian pengujian teknis yang menyeluruh.
“Proses sinkronisasi ini bukan sekadar menyambungkan listrik ke jaringan PLN, tetapi melibatkan uji sistem secara ketat untuk memastikan bahwa pembangkit beroperasi dengan aman, efisien, dan sesuai dengan standar serta regulasi yang berlaku,” jelas Fadli.
(azr/wdh)





























