Serangan yang menargetkan para pemimpin kelompok Hamas itu dilakukan terhadap sekutu damai AS, menandai eskalasi dramatis dari sikap ofensif Israel dalam setahun terakhir, setelah sebelumnya melancarkan serangan udara di Suriah, Lebanon, dan Iran.
Para tetangga Qatar di Teluk kian resah menyusul serangan ke Doha, yang merupakan lokasi pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah sekaligus pusat salah satu dana kekayaan berdaulat terbesar dunia. Kecaman bermunculan dari berbagai penjuru kawasan.
Uni Emirat Arab—yang menormalisasi hubungan dengan Israel lima tahun lalu melalui Abraham Accords yang ditengahi Donald Trump—memperingatkan Israel bahwa tindakannya akan membawa “dampak yang sangat berbahaya” bagi keamanan regional. Arab Saudi, yang kini didorong AS untuk bergabung dalam perjanjian tersebut, menyebut serangan itu sebagai “tindakan kriminal.” Sementara Qatar mengecamnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap seluruh hukum dan norma internasional.”
“Normalisasi sudah mati,” kata Dina Esfandiary, Middle East Geoeconomics Lead untuk Bloomberg Economics. “Tidak ada lagi prospek normalisasi dengan negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi, setelah salah satu dari mereka diserang.”
(dov/frg)



























