Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam adalah Tiongkok sebesar US$12,07 miliar, Singapura sebesar US$3,41 miliar, dan Australia sebesar US$3,16 miliar.
Sebelumnya, ekspor Indonesia pada Juli diperkirakan tumbuh melambat. Sementara impor mengalami kontraksi (tumbuh negatif) sehingga neraca perdagangan masih tetap terjaga surplus.
Konsensus Bloomberg yang dihimpun hingga Jumat (29/8/2025) sore menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekspor Juli di 6,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika terwujud, maka melambat dibandingkan Juni yang melonjak 11,29% yoy.
Perkembangan harga sejumlah komoditas mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Batu bara, misalnya. Harga batu bara internasional ICE Newcastle turun nyaris 5% sepanjang Agustus.
Kemudian belum jelasnya kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) pada Juli juga membuat dunia usaha cenderung wait and see. Sebagai catatan, tarif bea masuk 19% terhadap produk Indonesia ke AS baru berlaku pada awal Agustus.
(lav)

























