Logo Bloomberg Technoz

Negara berpenduduk hampir 28 juta jiwa itu tengah menghapus bertahap pembangkit batu bara tua dan menargetkan lebih dari dua kali lipat energi terbarukan hingga 82% dari total bauran pada 2030, menjadikannya studi kasus transisi energi global.

Lonjakan pemasangan panel surya atap turut mempercepat peralihan, namun juga memicu kelebihan pasokan listrik di siang hari, membuka peluang bagi baterai skala besar untuk membeli listrik murah dan menjual kembali saat harga pulih.

“Situasi di Australia ini unik atau bisa juga disebut tantangan di mana surplus energi meluber ke pasar setiap hari,” kata David Guiver, wakil presiden dan manajer umum perdagangan di unit lokal Shell Plc, yang memiliki sejumlah investasi baterai besar.

“Itulah mengapa kita melihat banyak investasi besar dalam penyimpanan energi baterai skala utilitas.”

Pasar baterai Australia belakangan tumbuh. (Bloomberg)

Masuknya pasokan surya dalam jumlah besar, ditambah kerusakan berulang di pembangkit batu bara, telah menimbulkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan bahkan sempat menyebabkan kegagalan pasar pada 2022.

Harga listrik kerap negatif di tengah hari, artinya konsumen dibayar untuk menggunakan listrik dan melambung pada jam sibuk sore.

Australia kini menjadi pasar terbaru bagi trader energi global yang memburu keuntungan lewat baterai.

Setelah mengeruk untung dari perdagangan minyak, gas, dan logam, rumah dagang energi Eropa seperti Vitol Group dan Trafigura Group kini melirik peluang menyimpan dan menjual kembali listrik ke jaringan.

Di AS, baterai membantu mencegah pemadaman listrik, meski penyebarannya terhambat biaya tambahan akibat tarif impor.

Harga listrik di jaringan utama Australia sempat negatif atau nol dalam rekor 23% interval lima menit pada kuartal IV tahun lalu, sebelum turun menjadi hampir 11% pada kuartal I, tetap lebih tinggi dibandingkan sebagian besar pasar Eropa.

Komitmen investasi baterai skala besar mencapai A$3,7 miliar atau sekitar US$2,4 miliar) pada 2024, setelah rekor A$6,9 miliar setahun sebelumnya, menurut Clean Energy Council.

Pemasangan panel surya atap juga tertinggi sejak 2021 meski satu dari tiga rumah sudah memiliki panel, tingkat adopsi tertinggi di dunia.

“Volatilitas adalah peluang besar yang masih sangat diremehkan pasar,” kata Nick Carter, CEO Akaysha Energy, unit BlackRock Inc. yang mengelola proyek baterai di Australia, Jepang, dan AS.

Menurut Carter, spread harga itu kemungkinan bertahan atau bahkan melebar dalam 5 tahun hingga 10 tahun ke depan.

Baterai skala utilitas di National Energy Market meraup pendapatan A$120,8 juta dari kuartal lalu, lebih dari empat kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya.

Baterai menetapkan harga di jaringan 8% dari waktu, dengan biaya lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tenaga hidro, penentu harga paling umum.

Fenomena ini relatif baru, sebelumnya pendapatan utama pemilik baterai berasal dari jasa penyeimbang pasokan dan permintaan jaringan atau ancillary services.

Namun model bisnis dan teknologi berkembang pesat sejak Elon Musk sukses membangun baterai 100 megawatt pertama di dunia dalam 100 hari pada 2017 untuk mencegah pemadaman di Australia Selatan.

“Kami memperkirakan ini akan bertahan,” kata Andrew Stiel, kepala pasar energi di Edify Energy Pty. “Ini adalah normal baru.”

Pasar Listrik Australia Catat Volatilitas Tertinggi di Dunia. (Bloomberg)

Awal bulan ini, Akaysha mulai membangun proyek super battery senilai A$1 miliar yang bakal menjadi salah satu terbesar di dunia, lebih dari delapan kali ukuran proyek pertama yang dibangun Tesla Inc. pada 2017.

Bagi utilitas listrik tradisional seperti AGL Energy Ltd. dan Origin Energy Ltd., baterai juga berfungsi membatasi potensi kerugian finansial.

Fasilitas ini membantu mengurangi risiko portofolio akibat pemadaman, penutupan pembangkit batu bara, dan fluktuasi harga yang makin liar.

Origin telah mengalokasikan sekitar A$1,7 miliar untuk mengembangkan dua baterai skala utilitas dan mengamankan perjanjian pembelian untuk dua proyek lain yang sedang dibangun.

AGL, produsen batu bara terbesar Australia, mengoperasikan dua baterai jaringan dan berencana mengaktifkan unit ketiga awal tahun depan.

“Baterai telah menjawab kebutuhan penyimpanan jangka pendek dan kapasitas respons cepat,” kata Simon Sarafian, manajer umum perdagangan dan origination di AGL.

“Kami sangat puas dengan kinerja baterai kami, dan berencana menambah lagi.”

Pendapatan dari unit baterai diperkirakan cukup untuk menutup biaya batu bara dan gas yang lebih tinggi mulai 2028, kata CEO AGL Damien Nicks dalam presentasi kinerja semesteran Rabu lalu.

“Pasar ini membutuhkan begitu banyak baterai dan kapasitas tambahan yang luar biasa besar,” katanya.

“Jangan remehkan jumlah baterai yang dibutuhkan dalam dekade mendatang. Angkanya sangat masif.”

(bbn)

No more pages