Logo Bloomberg Technoz

Bentrokan terbaru ini terjadi setelah dua hari pertempuran intens yang melibatkan jet tempur, peluncur roket, dan artileri berat di berbagai wilayah perbatasan, yang memaksa lebih dari 100.000 orang dievakuasi dari zona konflik oleh kedua negara.

Thailand melaporkan jumlah korban tewas di pihaknya mencapai 20 orang, termasuk tujuh tentara sejak pertempuran pecah pada hari Kamis, dengan lebih dari 60 orang terluka. Kamboja melaporkan 13 kematian termasuk lima tentara, dan 70 orang lainnya luka-luka.

Bentrokan paling mematikan antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade ini terjadi ketika ketegangan perbatasan yang telah berlangsung lama meletus menjadi konflik berskala penuh. Dua tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat, dan seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak di perbatasan pada bulan Mei — yang menjadi awal dari ketegangan saat ini.

Thailand dan Kamboja sama-sama mengklaim bahwa mereka hanya bertindak untuk membela diri, dengan Bangkok bersikeras bahwa permusuhan dari pihak Kamboja harus dihentikan terlebih dahulu sebelum gencatan senjata bisa dilakukan.

Kedua negara memiliki sejarah panjang ketegangan perbatasan, meskipun hubungan mereka sebagian besar tetap stabil sejak konflik mematikan pada tahun 2011 yang menewaskan puluhan orang. Ketegangan besar terakhir berpusat di sekitar candi Preah Vihear, titik konflik yang telah berlangsung lama sejak era kolonial Prancis.

Sebagian besar sengketa saat ini berakar pada peta yang dibuat berdasarkan penafsiran berbeda atas perjanjian Franco-Siam awal abad ke-20, yang menetapkan batas wilayah antara Thailand dan Kamboja — saat itu masih merupakan bagian dari Indochina Prancis.

Sementara AS, Tiongkok, dan Malaysia telah menghubungi kedua pihak untuk memfasilitasi gencatan senjata, Thailand menyatakan bahwa mereka bertekad menyelesaikan konflik ini secara bilateral. Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengatakan negaranya siap menerima usulan gencatan senjata yang dimediasi oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, selaku ketua ASEAN saat ini. Namun, menurutnya, Thailand membatalkan kesepakatan tersebut pada saat-saat terakhir, ungkapnya pada hari Jumat.

Dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Jumat — yang dihadiri perwakilan dari Kamboja dan Thailand — diserukan penahanan diri dan penyelesaian konflik secara bilateral melalui cara damai. Dewan juga mendesak agar ketegangan segera diredakan dan gencatan senjata segera dilakukan, sambil mendukung peran ASEAN dalam mediasi, kata Menteri Luar Negeri Thailand Maris Sangiampongsa pada hari Sabtu.

Namun, Thailand tidak akan memulai penghentian aksi militer dan Kamboja harus menghentikan permusuhan terlebih dahulu, ujar Maris kepada para wartawan.

“Kamboja harus menunjukkan itikad baik untuk mengakhiri konflik ini,” kata Maris, sembari mengucapkan terima kasih kepada Anwar dari Malaysia atas tawarannya memfasilitasi dialog. “Mereka harus menghentikan agresi dan serangan terhadap Thailand.”

Militer Thailand meminta warga di daerah perbatasan untuk tetap waspada karena dikhawatirkan Kamboja dapat meluncurkan rudal buatan Tiongkok yang mampu mencapai target dalam radius 130 kilometer, menurut unggahan di Facebook.

Siwat Rattana-Ananta, atase militer Thailand di Beijing, bertemu dengan pejabat Tiongkok pada hari Jumat, dan mendapat kepastian bahwa Tiongkok tidak memberikan senjata baru kepada Kamboja sejak konflik ini dimulai. Semua senjata yang digunakan oleh Phnom Penh berasal dari kesepakatan sebelumnya, ujarnya.

Kamboja dalam beberapa tahun terakhir mengandalkan Tiongkok untuk memodernisasi sektor pertahanannya, termasuk dukungan keuangan dan infrastruktur untuk renovasi Pangkalan Angkatan Laut Ream, serta kerja sama militer yang luas melalui latihan bersama dan peralatan. Sebaliknya, Thailand — sekutu perjanjian lama AS — memiliki skuadron jet tempur F-16 dan Gripen buatan Swedia serta tank-tank modern.

Thailand juga telah menjalin hubungan diplomatik yang lebih erat dengan Beijing, terutama selama hampir satu dekade pemerintahan militer di bawah mantan Perdana Menteri Prayuth Chan-Ocha. Kedua negara telah menyaksikan lonjakan perdagangan bilateral dalam beberapa tahun terakhir — mencapai US$129 miliar pada 2024 — seiring semakin banyak perusahaan Tiongkok yang memindahkan pabrik mereka untuk menghindari tarif tinggi dari AS.

Konflik ini muncul pada saat yang genting bagi Thailand dan Kamboja, ketika keduanya menghadapi serangkaian tantangan ekonomi, termasuk ancaman tarif tinggi dari AS. Sementara negara tetangga seperti Indonesia, Filipina, dan Vietnam telah mendapatkan kesepakatan dagang dengan pemerintahan Trump, Thailand yang bergantung pada ekspor belum berhasil mencapai kesepakatan serupa.

Bentrokan di perbatasan juga berisiko memperburuk krisis politik di Thailand. Pemimpin yang sedang tertekan, Paetongtarn Shinawatra, telah ditangguhkan dari jabatannya sebagai perdana menteri karena dugaan kesalahan dalam menangani sengketa perbatasan tersebut.

Koalisi yang dipimpin Pheu Thai miliknya sudah dalam posisi rapuh sejak salah satu partai kunci membelot bulan lalu, mengurangi kekuatan mayoritasnya, dan kini menghadapi ancaman unjuk rasa anti-pemerintah yang menuntut penggulingannya.

(bbn)

No more pages