Harga minyak kembali melesat dan pemodal mengurangi posisi di aset-aset berisiko seperti saham. Rupiah juga tertekan oleh sentimen laporan kinerja APBN 2025.
Siang tadi, Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan posisi APBN 2025 hingga akhir Mei yang mencatat defisit sebesar 0,09% dari Produk Domestik Bruto atau sekitar Rp21 triliun.
Defisit itu terjadi bahkan ketika belanja pemerintah masih mencatat penurunan double digit sebanyak 11,3% year-on-year (yoy).
Defisit yang yang terjadi pada Mei setelah bulan sebelumnya surplus, juga terjadi di kala penerimaan negara melanjutkan tren penurunan yaitu sebesar 11,4% yoy. Kementerian Keuangan juga melaporkan, penerimaan pajak tergerus 10,1% yoy, di kala penerimaan cukai tumbuh 12,7% yoy.
Data itu membebani rupiah di mana setelah sempat menyentuh level terkuat hari ini di Rp16.265/US$, rupiah berbalik melemah hampir mendekati kisaran Rp16.300/US$ lagi, namun akhirnya ditutup di posisi Rp16.280/US$.
Saham dan SUN membaik
Yang menarik, ketika rupiah terpeleset di zona merah, animo investor terhadap saham dan surat utang domestik malah membaik di tengah ketidakpastian yang masih besar di lanskap geopolitik global.
Menutup hari ini, IHSG mengakhir sesi dengan penguatan 0,54%, di tengah capaian bursa regional yan mayoritas terpeleset di zona merah, kecuali bursa saham Jepang, Taiwan serta Singapura dan Filipina. Penguatan IHSG hari ini juga mengakhiri kemerosotan selama empat hari perdagangan terakhir.
Sedangkan di pasar surat utang negara, mayoritas yield SUN bergerak turun terutama tenor pendek 1Y dan 2Y yang terpangkas 4,6 bps dan 3,8 bps. Sedangkan tenor 10Y juga turun 1,8 bps.
Penurunan yield tenor pendek di pasar sekunder, sepertinya dilatarbelakangi oleh spekulasi penurunan BI rate besok oleh Bank Indonesia.
Konsensus pasar memang memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan besok. Akan tetapi, sebagian ekonom terutama dari bank asing memprediksi bank sentral mungkin akan memangkas bunga acuan sebanyak 25 basis poin, di tengah inflasi yang melandai dan kinerja rupiah yang relatif stabil belakangan.
Penguatan harga obligasi negara hari ini juga terjadi ketika animo investor di pasar primer meningkat. Gelar lelang Surat Utang Negara mencatat kenaikan tipis incoming bids 5% mencapai Rp81,03 triliun.
(rui)



























