Program ini secara langsung memberi manfaat kepada 35 nelayan kapal kecil dan 140 anggota KUD Mina Karya Baru. Tidak hanya meningkatkan pendapatan, pemanfaatan energi bersih ini juga berkontribusi pada penurunan emisi karbon.
Ketua KUD Mina Karya Baru, Karyono, menyambut positif program tersebut.
“Biasanya ikan rucah ini kami buang karena harganya sangat rendah. Tapi sekarang bisa diolah jadi tepung ikan yang punya nilai jual. Apalagi dengan PLTS, biaya produksinya lebih hemat,” ungkapnya.
Tepung ikan yang dihasilkan digunakan sebagai bahan pakan unggas dan ikan, dan memiliki potensi pasar tidak hanya di Subang, tetapi juga di desa-desa sekitarnya yang aktif dalam budidaya ayam dan itik.
Menurut John Anis, CEO Pertamina NRE, transisi energi tidak cukup hanya berbicara teknologi.
“Kami terus berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat, tidak hanya mengenai energi baru terbarukan, tapi juga pemanfaatannya, demi lingkungan dan praktik ekonomi berkelanjutan,” jelas John.
Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian penting dari strategi Pertamina dalam membangun ketahanan ekonomi berbasis energi bersih.
Desa Energi Berdikari menjadi program Pertamina dalam mendorong ekonomi masyarakat, terutama dengan memanfaatkan energi bersih. Pertamina telah membangun 172 lokasi program ini di seluruh Indonesia.
"Sehingga, kami berharap program ini tak hanya berdampak bagi ekonomi, juga pengurangan emisi karbon," imbuh Fadjar.
Melalui kolaborasi ini, Pertamina NRE memperkuat perannya dalam menyinergikan energi bersih dan pemberdayaan komunitas lokal, menciptakan ekosistem berkelanjutan khususnya di wilayah pesisir yang kaya potensi sumber daya alam terbarukan.
(tim)





























