Logo Bloomberg Technoz

Yuan offshore juga tergerus 0,04%, juga won Korsel 0,02% dan dolar Hong Kong 0,01%. 

Di pasar offshore, rupiah yang kemarin ditutup menguat 0,4%, pagi ini berbalik melemah di kisaran Rp16.427/US$, mengisyaratkan tekanan serupa kemungkinan juga akan menjalar lagi di pasar spot.

Penguatan rupiah spot pada awal transaksi juga terjadi ketika indeks saham ambles lebih dari 1% pagi ini. Sementara harga surat utang negara juga mayoritas tertekan.

Mengacu data OTC Bloomberg, yield 2Y naik 1,9 basis poin pagi ini menyentuh 6,62%. 

Sedangkan tenor 5Y naik 0,4 basis poin imbal hasilnya di 6,75%. Begitu juga tenor 10Y yang bergerak sedikit di 6,94%. Adapun tenor panjang 13Y naik 2,9 basis poin menyentuh 7,06%.

Defisit fiskal membengkak

Lanskap pasar global menyalakan lagi sentimen risk-off yang akan membebani aset-aset di pasar emerging, termasuk Indonesia. Bursa saham AS rontok hingga melewati batas psikologis penting akibat peningkatan eskalasi perang dagang yang dikobarkan Presiden AS Donald Trump. 

Trump kini mengancam penerapan tarif impor hingga 200% pada produk anggur, sampanye dan minuman beralkohol dari Eropa.

Trump jua menegaskan, ia tidak akan mencabut tarif atas baja dan aluminium yang baru saja diberlakukan pekan ini, serta tetap berniat memberlakukan tarif timbal balik yang lebih luas terhadap mitra dagang global mulai 2 April.

Tekanan Trump tersebut memicu arus keluar dari aset berisiko, seperti saham, mata uang digital dan mungkin juga dari aset-aset di emerging market yang memiliki risiko lebih besar. Itu sejatinya menjadi ancaman bagi saham, surat utang juga valuta di luar AS, termasuk Indonesia.

Sentimen global itu memperburuk sentimen domestik yang sudah cukup buruk. Kinerja keuangan negara yang mencatat defisit hanya dalam dua bulan pertama tahun ini akibat penurunan penerimaan negara, membuat risiko investasi meningkat.

Penurunan penerimaan negara akibat setoran pajak yang anjlok, ditambah rencana penggunaan dividen BUMN untuk modal awal Badan Pengelola Investasi Danantara, berpotensi menempatkan keuangan negara tahun ini mengalami kekurangan pendapatan hingga Rp150 triliun hingga Rp160 triliun, menurut perhitungan analis Mega Capital Sekuritas.

"Dalam analyst meeting realisasi APBN Februari, Kementerian Keuangan menyatakan tidak akan menarik dividen BUMN tahun ini yang sudah dianggarkan sebesar Rp90 triliun. Dividen tersebut akan diserahkan ke Danantara untuk diinvestasikan pada sektor smelter nikel, energi dan infrastruktur data center. Sehingga, APBN 2025 akan menghadapi kekurangan pendapatan senilai Rp150 triliun hingga Rp160 triliun. Apabila hal ini tidak diatasi melalui pengurangan belanja atau mencari penghasilan dari pos lain, maka defisit fiskal tahun ini berisiko naik menjadi -3,16% hingga 3,19% terhadap GDP [Gross Domestic Product]," kata tim analis Mega Capital Sekuritas di antaranya Lionel Priyadi, Muhammad Haikal dan Nanda Rahmawati, dalam catatannya pagi ini. 

(rui)

No more pages