Logo Bloomberg Technoz

Ada preseden: grup China itu mengizinkan mantan mitranya, Mitsubishi Motors, untuk keluar dari JV dan mengadaptasi beberapa fasilitas manufaktur untuk merek EV-nya sendiri yang berkembang pesat.

Menyitir Reuters, Kamis (23/1/2025), operasional China yang lebih efisien dapat membantu Honda dan Nissan mengejar ketertinggalan di bidang EV. Kedua produsen yang tertinggal ini sedang mengembangkan sekitar 10 model EV untuk dijual di Negeri Tirai Bambu.

Karena mereka memiliki basis pelanggan yang sama, setelah merger, mereka dapat fokus pada rangkaian produk yang lebih kecil dan lebih efisien dengan produksi yang lebih besar per model.

Namun, mitra JV bisa dengan mudah menjadi hambatan. Persyaratan kemitraan tidak jelas, sehingga sulit menilai apakah restrukturisasi itu realistis. Bahkan jika Dongfeng dan GAC bersedia, prosesnya akan rumit dan memakan waktu lama. Menemukan pembeli aset seperti pabrik yang mengalami surplus bisa jadi sulit mengingat kelebihan kapasitas industri.

Selain itu, kecepatan bukanlah prioritas utama Honda dan Nissan. Keduanya tidak membidik merger sebelum Agustus tahun depan. Mereka pun belum membicarakan masalah ini dengan rekan-rekan mereka di China. Minggu lalu kepada wartawan, seorang eksekutif Honda mengakui mereka perlu berbicara "cepat atau lambat."

Melihat adanya pertumbuhan BYD dan perusahaan sejenisnya, para investor berharap merger keduanya akan terealisasi lebih cepat.

Honda Motor dan Nissan Motor pada 23 Desember mengatakan bahwa mereka telah menandatangani nota kesepahaman untuk menghabiskan waktu enam bulan mendiskusikan potensi integrasi bisnis.

Jika kedua produsen mobil ini setuju melanjutkannya sekitar Juni 2025, mereka pertama-tama akan mendirikan perusahaan induk yang akan terdaftar di Bursa Efek Tokyo pada Agustus 2026, di mana pada saat itu saham kedua perusahaan akan dihapus.

Mitsubishi Motors, yang 34% sahamnya dimiliki oleh Nissan, akan memutuskan pada akhir Januari 2025 apakah akan bergabung dalam diskusi tersebut.

(ros)

No more pages