Logo Bloomberg Technoz

Teluk Persia menjadi fokus dalam perang melawan perubahan iklim akhir tahun ini karena Uni Emirat Arab (UEA) bersiap untuk menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas perlindungan pada lingkungan dan pengurangan emisi.

Kekayaan mMineral Arab Saudi diperkirakan bernilai US$1,3 triliun. (Sumber: Bloomberg)

Sebagai anggota OPEC, Saudi dan UEA, berupaya mengembangkan sumber-sumber terbarukan seperti tenaga surya dan sistem penangkap karbon, mereka juga berinvestasi untuk memperluas kapasitas produksi minyak.

“Ada alasan bagi kami untuk terus berada di minyak dan gas. Meskipun pangsa minyak dan gas mungkin berkurang,” kata Pangeran Abdulaziz, migas masih akan menjadi bagian dari sistem energi negeri secara keseluruhan.

Minyak dan gas dapat membuat permintaan berlipat ganda pada pertengahan abad ini, katanya.

Berinvestasi dalam minyak dan gas bersama dengan pasokan lain menunjukkan bahwa negara-negara Timur Tengah serius menjadi pemasok energi yang bertanggung jawab ke pasar global, kata Suhail Al Mazrouei, Menteri Energi UEA, dalam sebuah panel dengan rekannya dari Saudi.

Arab Saudi juga mengeksplorasi energi panas bumi, utaamnya pada wilayah barat negara yang jauh dari sumber daya bahan bakar fosil. Arab Saudi juga sedang mengembangkan kapasitas penangkapan karbon baru, kata Pangeran Abdulaziz.

Grafik produksi minyak Arab Saudi. (dok Bloomberg)

Anggota OPEC dan para sekutunya, termasuk Rusia telah membatasi produksi. Mereka berusaha untuk menaikkan harga dan menghilangkan kelebihan minyak mentah di penyimpanan.

Harga minyak dunia turun sekitar US$10 per barel minggu lalu karena para investor masih khawatir akan kekuatan ekonomi global dan permintaan energi.

Ilustrasi pembangunan Arab Saudi. (Dok: Bloomberg)

—Dengan asistensi Fahad Abuljadayel.

(bbn)

No more pages