Logo Bloomberg Technoz

Konvergensi teknologi informasi (IT), teknologi operasional (OT), dan sistem kendali industri (ICS) turut memperbesar area yang berpotensi menjadi sasaran serangan. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap layanan keamanan siber yang mampu melakukan pemantauan, deteksi, dan respons secara berkelanjutan.

President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan, kemitraan dengan SGCI menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memasuki pasar baru dengan menggandeng mitra yang telah memiliki pengalaman dan jaringan lokal.

“Organisasi di Pantai Gading menghadapi lingkungan teknologi yang semakin kompleks dan membutuhkan kemampuan operasional yang berjalan secara konsisten, bukan sekadar layanan yang diberikan satu kali. Selama lebih dari 20 tahun, SGCI telah membangun kepercayaan dan keahlian teknis yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan ini. ITSEC Asia akan mendukung melalui teknologi dan pengalaman operasional yang kami miliki. Kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi internasional kami untuk bekerja bersama mitra yang telah mapan di setiap pasar, sehingga kapabilitas keamanan siber tingkat lanjut dapat diakses oleh organisasi di Pantai Gading yang membutuhkannya," ujarnya.

ITSEC Asia Siapkan Layanan Keamanan Siber Terintegrasi

Berdasarkan MoU tersebut, SGCI akan memimpin hubungan dengan klien serta pelaksanaan layanan di tingkat lokal. Perusahaan ini memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di Pantai Gading, khususnya dalam audit sistem informasi, integrasi teknologi, keamanan ofensif, dan forensik digital.

Sementara itu, ITSEC Asia akan bertindak sebagai mitra teknologi dan kapabilitas keamanan siber. Dukungan yang diberikan mencakup penyediaan solusi, keahlian teknis, pelatihan, serta pendampingan berkelanjutan bagi tim lokal SGCI.

Pembagian peran tersebut dirancang untuk menggabungkan pemahaman SGCI terhadap kebutuhan pasar dan regulasi setempat dengan kemampuan teknis serta pengalaman operasional ITSEC Asia di Asia Pasifik dan Timur Tengah.

Managing Director atau Gérant SGCI Cyrille Koffi mengatakan, layanan keamanan siber bagi institusi publik dan operator infrastruktur kritis perlu dijalankan secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan lokal dan kepatuhan terhadap regulasi nasional.

“Institusi publik dan operator infrastruktur kritis di Pantai Gading membutuhkan layanan keamanan siber yang dioperasikan secara berkelanjutan, dijalankan secara lokal dan mematuhi regulasi nasional. SGCI memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun, praktik audit yang diakui, serta kapabilitas integrasi dan operasi keamanan yang telah teruji. Dengan dukungan teknologi dan skala operasional ITSEC Asia, kami membangun kemampuan respons yang berdaulat, dengan sistem yang dihosting dan dioperasikan secara lokal, dimulai dari proyek-proyek tingkat nasional," imbuh Cyrille.

Salah satu aspek yang ditekankan dalam kerja sama ini adalah pengembangan kemampuan keamanan siber yang dapat dioperasikan secara lokal. Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu organisasi di Pantai Gading mengelola kebutuhan keamanan digital dengan dukungan infrastruktur dan tenaga profesional setempat.

Bidik Proyek Nasional dan Infrastruktur Kritis

Untuk mendukung pelaksanaan proyek, ITSEC Asia akan menyediakan sejumlah layanan melalui SGCI. Layanan tersebut mencakup pusat operasi keamanan atau Security Operations Center (SOC), managed detection and response (MDR), intelijen ancaman siber, asesmen keamanan OT/ICS, serta pelatihan.

ITSEC Asia juga akan menghadirkan platform IntelliBroń Orion sebagai bagian dari dukungan teknologi. Platform ini merupakan salah satu solusi perusahaan untuk membantu organisasi mengidentifikasi, menganalisis, dan merespons insiden siber secara real-time.

Adapun SGCI akan menyumbangkan keahlian dalam tata kelola dan kepatuhan, audit sistem informasi, pengujian keamanan ofensif, forensik digital, integrasi teknologi, hosting, serta operasional lokal. Kombinasi kapabilitas tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan keamanan digital di berbagai sektor strategis.

Bagi ITSEC Asia, kemitraan ini membuka peluang untuk memperluas pasar di luar kawasan yang selama ini menjadi fokus operasionalnya. Namun, implementasi kerja sama tetap akan bergantung pada kebutuhan proyek, kesepakatan kedua pihak, serta ketentuan yang berlaku di Pantai Gading.

ITSEC Asia merupakan perusahaan keamanan siber dan kecerdasan buatan (AI) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham CYBR. Perusahaan menyediakan layanan perlindungan data, konsultasi strategis, integrasi solusi teknologi, SOC, serta managed security services.

ITSEC Asia didukung lebih dari 300 tenaga ahli yang tersebar di Indonesia, Singapura, Australia, Mauritius, dan Dubai. Perusahaan juga menyatakan telah terverifikasi oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), memiliki sertifikasi internasional ISO 27001, ISO 9001, dan ISO 14001, serta menjadi anggota CREST.

Sementara itu, SGCI merupakan perusahaan layanan digital yang berbasis di Abidjan, Pantai Gading. Selama lebih dari 20 tahun beroperasi, perusahaan tersebut melayani kebutuhan teknologi informasi dan keamanan siber, termasuk bagi institusi publik dan operator infrastruktur kritis.

Melalui kemitraan ini, kedua perusahaan berupaya menggabungkan kemampuan teknologi, pengalaman operasional, dan kehadiran lokal untuk menjawab kebutuhan keamanan siber yang berkembang di Afrika Barat. Bagi ITSEC Asia, langkah tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk mengembangkan peluang bisnis di pasar Afrika.

(tim)

No more pages
Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone