Logo Bloomberg Technoz

Perubahan arah kebijakan ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan investasi hilirisasi di dalam negeri.

Pada Semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencatatkan angka Rp300,1 triliun, atau menyumbang 29,7% dari total realisasi investasi nasional. Angka ini tumbuh 6,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Secara terperinci, penanaman modal asing (PMA) mendominasi capaian tersebut dengan nilai Rp212,8 triliun (70,9%), sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp87,3 triliun (29,1%).

Capaian ini menjadi landasan penting bagi Indonesia untuk memperkuat kedudukannya dalam rantai nilai mineral kritis global.

Fokus hilirisasi saat ini bergeser dari sekadar pembangunan fisik fasilitas pengolahan menuju peningkatan daya saing produk dan integrasi dengan pasar internasional.

Dalam konteks mineral kritis, pemerintah memprioritaskan kepastian rantai pasok bahan baku, efisiensi biaya pemrosesan, pembentukan harga yang transparan, ketersediaan pembeli, serta pemenuhan standar global.

Isu-isu strategis tersebut menjadi pembahasan utama dalam ajang Indonesia Critical Minerals & Metals Summit (ICMMS) 2026.

Heldy menilai kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan investor sangat krusial untuk merealisasikan potensi industri hilir Indonesia, serta mempertemukan berbagai sudut pandang strategis para pemangku kepentingan.

Selain membahas kebijakan nikel dan aturan perdagangan global, forum tersebut secara khusus menyoroti aspek teknis dan ekonomi pengolahan mineral.

Topik yang dikaji mencakup keekonomian teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL), daya saing produksi asam sulfat, serta struktur biaya dan pilihan teknologi pengolahan nikel di Indonesia.

Pada tingkat pengolahan yang lebih hilir, seperti pembuatan prekursor dan katoda, pengembangan industri tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku.

Industri ini juga menuntut kesiapan teknologi, jaminan kualitas produk, kepastian pasar, serta kelayakan ekonomi proyek agar produk hilir Indonesia mampu bersaing dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Untuk diketahui, industri manufaktur EV dan BESS terus mengalami akselerasi pesat secara global maupun domestik. Tuntutan transisi energi bersih mendorong percepatan investasi pada integrasi rantai pasok hilirisasi dari hulu tambang hingga pembuatan sel baterai. 

Pengembangan teknologi baterai berbasis nikel (NMC) dan kemajuan pesat varian lithium iron phosphate (LFP) menjadi dua penopang utama peningkatan kapasitas produksi demi memenuhi melonjaknya adopsi kendaraan listrik dunia.

Di Indonesia, fokus manufaktur baterai kian bergeser dari sekadar komoditas mentah menuju ekosistem baterai terintegrasi secara komprehensif. Pembangunan pabrik sel baterai dan paket baterai (battery pack) berskala giga kini terus didorong melalui kolaborasi strategis antara BUMN dan produsen baterai multinasional. 

Kehadiran fasilitas produksi baterai ini tidak hanya ditujukan untuk menyuplai industri otomotif EV dalam negeri, tetapi juga menargetkan rantai pasok global dan penguatan nilai tambah industri manufaktur nasional.

Di samping pasar kendaraan listrik, segmen BESS muncul sebagai penggerak pertumbuhan baru yang krusial bagi stabilitas jaringan listrik berbasis energi terbarukan. Integrasi BESS skala besar (utility-scale) dibutuhkan untuk mengatasi sifat intermittent dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin. 

Peningkatan efisiensi biaya manufaktur baterai mempercepat implementasi BESS secara luas, baik untuk proyek ketenagalistrikan nasional maupun aplikasi penyimpanan energi di sektor industri terisolasi.

(smr/ros)

No more pages