Logo Bloomberg Technoz

Sementara mata uang Asia tercatat berbalik arah dan terapresiasi pada penutupan perdagangan sore ini. Yuan China menguat bersama won Korea Selatan, yuan offshore, dan ringgit Malaysia. Sedangkan, dolar Taiwan dan dolar Singapura melemah bersama peso Filipina. 

Rupiah dan mata uang Asia pada Selasa (29/9/2026). (Bloomberg)

Penguatan mata uang Asia ditopang oleh pergerakan yuan yang menguat usai dewan negara alias kabinet China berkomitmen memberikan dukungan lebih banyak untuk menopang perekonomian domestiknya. Selain itu, bank sentral China (PBOC) juga telah menetapkan fixing yuan lebih kuat menjadi CNY6,7411/US$, naik dibandingkan posisi Senin di CNY6,7399/US$. 

Pergerakan yuan memiliki pengaruh besar terhadap arah mata uang Asia, terutama ketika pasar sedang menghadapi tekanan dari dolar AS yang menguat dan kenaikan yield US Treasury. 

Sinyal dukungan pertumbuhan ekonomi ditambah adanya fixing yuan yang relatif kuat oleh bank sentral China, memberi ruang bagi mata uang regional untuk menguat meski tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. 

Bahkan, ketidakpastian terkait resolusi konflik AS dan Iran kian meninggi usai Presiden AS Donald Trump menolak proposal yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pelaku pasar masih akan mencermati arah perkembangan konflik geopolitik yang telah berlangsung sejak kuartal pertama tahun ini.

Sementara, dari sisi domestik investor juga akan mencermati data perekonomian yang akan rilis pekan ini seperti inflasi dan neraca perdagangan.

(dsp/aji)

No more pages