Ia menyoroti masih adanya ruang untuk meningkatkan efisiensi industri perbankan Indonesia. Menurut Wijayanto, saat ini margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia berada di sekitar 4,5% dan rasio biaya operasional (BOPO) sekitar 70%. Angka tersebut dinilai masih lebih tinggi dibanding sejumlah negara ASEAN, seperti Malaysia dengan NIM sekitar 2% dan BOPO 45%, Thailand sekitar 2,5% dan 50%, serta Vietnam sekitar 3% dan 35%.
“Inefisiensi ini perlu dikurangi agar sektor riil bisa bertumbuh dengan lebih cepat dan mendorong persaingan sehat antarbank merupakan syarat utama,” ujar Wijayanto.
Menurut dia, selain mendorong persaingan, konsolidasi bank-bank kecil juga perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi industri. Di sisi lain, konsentrasi kontrol perbankan pada kelompok tertentu perlu dihindari agar mekanisme persaingan tetap terjaga.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bank swasta besar dengan struktur kepemilikan yang beragam punya peran strategis bagi industri perbankan.
Menurut Yusuf, bank swasta besar dengan basis pemegang saham yang beragam, termasuk investor publik, juga terdorong menjalankan tata kelola secara disiplin karena diawasi regulator, pasar, dan pemegang saham minoritas. Keberadaan bank swasta besar juga dapat menjadi pembanding bagi bank lain, termasuk bank BUMN, sehingga mendorong peningkatan standar layanan dan investasi teknologi.
Yusuf menyebut, manfaatnya paling terasa bagi masyarakat pada banyaknya pilihan produk tabungan, kredit, dan layanan transaksi. “Sehingga nasabah punya daya tawar dan bisa berpindah ketika layanan tidak memuaskan,” ujarnya.
Namun kemandirian ini tetap harus berjalan dalam koridor pengawasan yang ketat. Sebab, Yusuf mengatakan bank mengelola dana masyarakat dan tidak bisa diperlakukan seperti entitas bisnis biasa.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kepemilikan yang beragam bukan jaminan otomatis sebuah bank sehat. Tata kelola, manajemen risiko, kecukupan modal, pengawasan regulator, serta persaingan yang terbuka tetap diperlukan untuk memastikan industri berkembang secara sehat.
Sementara itu, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan keberadaan bank swasta besar dengan kepemilikan beragam dapat menciptakan penyeimbang terhadap dominasi kelompok bank tertentu sekaligus memperkuat contestability pasar.
Menurutnya, skala besar memungkinkan bank membiayai korporasi, infrastruktur, perdagangan, hingga investasi digital. Sementara kepemilikan yang lebih tersebar dapat memperkuat disiplin tata kelola apabila disertai transparansi dan pengawasan yang memadai.
(lav)
































