Untuk diketahui, PLTA dan PLTS terapung Cirata merupakan bentuk sinergi energi terbarukan yang saling melengkapi di kawasan Waduk Cirata, Jawa Barat.
Integrasi dua teknologi ini memanfaatkan ruang perairan yang sama untuk menghasilkan listrik secara lebih efisien.
PLTS terapung dibangun mengapung di atas permukaan waduk, sehingga tidak memerlukan pembebasan lahan darat yang luas dan sekaligus mengurangi tingkat penguapan air waduk.
Dari sisi kapasitas pasokan, PLTA Cirata memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.008 MW, yang menjadikannya salah satu PLTA terbesar di Indonesia. Sementara itu, PLTS Terapung Cirata memiliki kapasitas sebesar 192 MWp (sekitar 145 MWac).
Lebih lanjut, dia menjelaskan besaran dampak kekeringan harus dihitung berdasarkan kondisi tiap daerah karena nilainya bisa berbeda-beda.
Sebagai gambaran, jika PLTA memasok 10% listrik dalam suatu sistem dan produksinya turun 20%, kekurangannya setara dengan dua persen dari pasokan awal yang membutuhkan pengganti jenis baseload.
Terkait dengan langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memanfaatkan penggunaan PLTU batu bara saat PLTA terkendala, Ahmad menyebut hal itu bisa saja dilakukan jika terdapat kapasitas cadangan.
Namun, peran pengganti tersebut juga dapat diisi oleh pembangkit baseload lain seperti pembangkit gas.
ESI mencatat dalam International Energy Agency (IEA) mengenai sistem Jawa—Bali menunjukkan penurunan produksi PLTA pada musim kering turut diimbangi oleh peningkatan operasi pembangkit gas, sehingga penurunan tersebut tidak otomatis seluruhnya dibebankan kepada PLTU.
Ahmad juga mengingatkan bahwa peningkatan emisi dan intensitas karbon listrik akan terjadi apabila penurunan produksi PLTA digantikan oleh PLTU batu bara.
Bagi Indonesia, tambahan emisi tersebut berpotensi memperberat pencapaian target nationally determined contribution (NDC), walaupun satu siklus El Niño tidak serta-merta menggagalkan target tersebut.
“Jadi risiko-risiko jangka panjang justru muncul jika kebutuhan energi sementara ini dijadikan alasan untuk memperpanjang ketergantungan pada batu bara, sehingga ketahanan terhadap kekeringan harus diintegrasikan ke dalam strategi transisi energi agar upaya penurunan emisi tetap berjalan konsisten di tengah perubahan cuaca,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tidak menampik fenomena El Niño telah memicu penurunan debit air di sejumlah wilayah, sehingga mengganggu optimasi produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Dia menyatakan pemerintah sedang menyiapkan pembangkit listrik lain sebagai sumber energi, termasuk PLTU sebagai pasokan pengganti sementara.
“Itu yang terjadi di beberapa wilayah yang memakai PLTA, dan perlahan-lahan sudah mulai bisa diatasi. [Untuk] sementara pengganti [PLTA] dengan pembangkit yang lain,” kata Bahlil saat ditemui awak media usai agenda MKI Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).
Dia menjelaskan penurunan debit air sungai tidak hanya menurunkan daya pembangkit listrik, tetapi juga menyebabkan pendangkalan alur pelayaran perahu di kawasan Papua.
“Bahkan sebagian sungai-sungai yang tadinya bisa dilalui perahu atau kapal, kayak di Papua, di Papua Selatan untuk menuju Asmat naik itu agak mengalami kedangkalan daripada sungai,” kata dia.
Bahlil sebelumnya mengungkapkan, selain kawasan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), wilayah Kalimantan juga mulai terdampak penurunan pasokan air.
"Daerah-daerah lain sebentar kita akan rapatkan dengan PLN untuk kita mitigasi sejak awal, ya," jelas Bahlil di DPR, Rabu (16/9/2026).
Turunnya debit air akibat musim kemarau panjang ini berdampak langsung pada kemampuan produksi listrik berbasis hidro.
Di sistem kelistrikan Sulbagsel, daya mampu agregat pembangkit hidro merosot drastis dari 850 megawatt (MW) menjadi hanya 250 MW—artinya terjadi penurunan pasokan hingga 600 MW.
Penurunan signifikan tersebut berdampak pada operasional sejumlah unit vital, antara lain PLTA Poso, PLTA Bakaru, PLTA Malea, hingga beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
Di sisi lain, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan fenomena El Niño telah menyebabkan penurunan kapasitas daya PLTA secara signifikan.
Dia menyebut pasokan listrik dari PLTA di wilayah Sulawesi bagian selatan berkurang hingga sekitar 650 MW.
"Dengan ada kondisi El Ninõ ini, PLTA itu kapasitasnya menjadi sangat berkurang. Sebagai contoh di Sulawesi bagian selatan itu berkurang sekitar 650 MW," ungkap Darmawan saat ditemui awak media usai agenda MKI Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).
Guna mengatasi masalah tersebut, PLN menjalankan arahan dari Menteri ESDM serta Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, yakni melakukan penambahan daya secara alami (natural hedging).
Upaya ini dilakukan melalui pengoperasian PLTS yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage system (BESS).
"Jadi penambahan dari natural hedging. Menggunakan PLTS dengan battery energy storage system," katanya.
(smr/wdh)































