Meski demikian, potensi kenaikan harga logam nikel dunia tersebut diprediksi bakal tertahan oleh inventori atau stok di London Metal Exchange (LME) yang masih tebal dan proyeksi surplus pasokan global pada tahun ini.
Dengan demikian, Sutopo tak melihat terdapat skenario harga logam nikel dunia bakal melonjak tajam ke atas US$20.000/ton.
Adapun, Sutopo mencatat Sumitomo Metal Mining memproyeksikan surplus nikel global 2026 mencapai 256.000 ton, ditopang lonjakan produksi NPI Indonesia yang diperkirakan naik 4,1% menjadi 1,76 juta ton.
Pada saat yang sama, stok logam nikel di LME tercatat naik ke 268.314 ton pada Agustus 2026 atau masih dalam level yang tinggi.
“Intinya arah tekanan memang ke atas untuk NPI kadar tinggi dalam jangka pendek, tapi ini masih sifatnya rebound dari tekanan oversupply, bukan pembalikan tren menjadi pasar yang benar-benar ketat,” tegas Sutopo.
Nikel terpantau diperdagangkan di harga US$16.329/ton di LME pagi ini, turun 1,04% dari penutupan Jumat.
Sebelumnya, Indef Green Transition Initiative (GTI) juga memprediksi kondisi kelebihan pasok atau oversupply nikel dunia tidak akan membaik secara signifikan usai Indonesia memastikan tidak akan merevisi kuota produksi dalam RKAB 2026 secara besar-besaran.
Head of Industrial and Transport Decarbonization Indef GTI Andry Satrio Nugroho menyatakan klaim pemangkasan RKAB yang dapat memotong 30% pasokan bijih dunia rupanya hanya bakal mengurangi pasokan nikel primer global sebesar 4%.
Andry memprediksi pasokan nikel global bakal berkurang gegara kebijakan tersebut dari 3,88 juta ton pada 2025 menjadi 3,71 juta ton pada 2026.
Dengan begitu, defisit pasokan yang tercipta hanya 32.000 ton atau 0,85% dari konsumsi dunia.
Kendati begitu, Andy menegaskan kondisi tersebut harus dibandingkan dengan stok atau inventori bursa logam global yakni LMNE dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).
Andry mencatat gabungan inventori logam nikel di LME dan SHFE mencapai sekitar 468.000 ton pada pertengahan 2026, sekitar 6,5 pekan konsumsi global sebanyak 72.058 ton per pekan.
Lalu, kondisi tersebut lebih besar 14,6 kali dibandingkan dengan defisit tahunan.
“Pada laju defisit sekarang, dibutuhkan hampir 15 tahun untuk menguras stok tersebut. Selama persediaan yang bisa diserahkan ke bursa sebesar itu masih ada, tidak ada pembeli yang perlu membayar premi untuk logam segera,” kata Andry ketika dihubungi, Rabu (15/7/2026).
Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.
Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengestimasikan produksi logam nikel kelas 1 dan kelas 2 sepanjang 2025 mencapai 2,46—2,5 juta ton, meningkat dari realisasi produksi 2024 sebanyak 2,2 juta ton.
FINI mencatat Indonesia membutuhkan kurang lebih sebanyak 300 juta ton bijih atau ore nikel untuk menghasilkan produksi logam sebanyak 2,46 juta ton tersebut.
Menurut riset pasar Shanghai Metals Market (SMM), smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) di IMIP mulai mengurangi produksi pada Selasa (22/9/2026).
SMM mencatat sejumlah smelter menurunkan tingkat produksi di beberapa lini menjadi sekitar 30%—40% dari kapasitas normal.
“Jika tingkat operasional saat ini berlanjut selama setengah bulan, produksi nickel pig iron berpotensi berkurang sekitar 50.000—70.000 ton berdasarkan tonase fisik,” ungkap SMM dalam risetnya, Rabu (23/9/2026).
Adapun, PT IMIP mengonfirmasi sejumlah smelter di kawasan mengalami penurunan produksi, termasuk pabrik RKEF yang memproduksi besi kasar nikel atau nickel pig iron (NPI).
Kendati begitu, IMIP mengklaim masih menghitung penurunan produksi dari setiap perusahaan di kawasan dan belum dapat mengonfirmasi produksi NPI dari kawasan IMIP turun sekitar 100.000 ton.
Saat dimintai konfirmasi, Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menerangkan penurunan produksi terjadi gegara fenomena El Niño menyebabkan penurunan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP.
Dia mengungkapkan PT IMIP selaku pengelola kawasan bersama sejumlah tenant tengah melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sejumlah alternatif sumber pasokan air cadangan guna meminimalkan dampak.
“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun, mengenai jumlah penurunannya kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” kata Deddy kepada Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).
Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.
Dedy menambahkan, pada proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.
“Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di Kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini,” kata Dedy.
Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengamini smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
(azr/wdh)



























