Kekerasan yang terus berlangsung di Gaza serta meningkatnya serangan para pemukim Israel terhadap warga Palestina telah dikecam oleh para pembicara dalam KTT tersebut. Para pemimpin Eropa baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap permukiman Israel setelah terjadi peningkatan tajam kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat.
Netanyahu menuduh para pemimpin tersebut "memilih tunduk pada kelompok antisemit." “Banyak pihak di dunia bebas takut untuk membela kebebasan,” katanya.
Meskipun Israel masih mendapat dukungan kuat dari AS, yang terus memberikan pendanaan dan senjata, Netanyahu dan Trump telah terlibat dalam serangkaian perbedaan pendapat sejak melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Februari.
Namun, Netanyahu mengatakan Israel “tidak memiliki mitra yang lebih besar daripada Presiden Trump” dalam “pertempuran melawan kaum barbar”. Menurutnya, keputusan untuk berperang dengan Iran merupakan hal yang mudah karena “jika kami tidak melakukannya, kita semua akan mati”.
Dalam pidatonya, Netanyahu memprediksi rakyat Iran pada akhirnya akan menggulingkan rezim yang berkuasa, meskipun tidak ada bukti mengenai pemberontakan yang akan terjadi dalam tujuh bulan sejak perang dimulai.
“Ini hanya masalah waktu sebelum sesuatu yang luar biasa terjadi di Iran,” katanya.
“Kekuatan rakyat akan mengalahkan orang-orang yang berkuasa.”
Netanyahu menyampaikan pidatonya hanya beberapa jam setelah rekaman pidato Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas diputar di hadapan Majelis Umum PBB.
Abbas, yang ditolak visanya oleh Amerika Serikat untuk menghadiri KTT tersebut, meminta komunitas internasional untuk terus mendorong solusi dua negara. Ia juga menuduh Israel menjalankan “skema kolonial yang jahat” untuk menggagalkan peluang terwujudnya solusi tersebut.
(del)






























