CEO OpenAI, Sam Altman, mendukung usulan tersebut, sementara Elon Musk dari xAI mengatakan, "Dario benar."
Para investor, termasuk Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments yang berbasis di Singapura, meragukan bahwa perkembangan terbaru ini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap industri tersebut.
"Hal ini mungkin menimbulkan tekanan jangka pendek, namun kecil kemungkinannya akan menggagalkan tren investasi AI dalam jangka panjang," ujar Tan.
"Pengembangan AI masih berada pada tahap yang relatif awal, dan saya tidak yakin ekosistem lainnya bersedia menerima hierarki saat ini serta melambat di tengah teknologi yang terus berkembang begitu pesat."
Kekhawatiran mengenai besarnya dana yang digelontorkan untuk AI telah membebani saham-saham teknologi, seiring investor mempertanyakan apakah perolehan laba mampu mengimbangi lonjakan biaya infrastruktur. Sorotan tajam ini membuat saham-saham dengan valuasi tinggi yang terkait dengan teknologi tersebut menjadi sangat rentan; tanda-tanda peningkatan belanja atau imbal hasil yang lebih lemah kerap memicu aksi jual.
Indeks saham Nasdaq 100 yang didominasi sektor teknologi telah turun lebih dari 4% dari rekor tertingginya yang dicapai pada bulan Juni, sementara indeks saham perusahaan chip di AS merosot 14% dan saham teknologi Asia turun hampir 8%. Indeks acuan S&P 500 dan tolok ukur saham global MSCI sama-sama mencatat kenaikan tipis sekitar 0,6% selama periode tersebut.
Sebagian investor berpendapat bahwa laju pengembangan AI yang lebih lambat pada akhirnya bisa berdampak positif bagi industri, karena memberikan waktu lebih banyak bagi perusahaan untuk memperoleh imbal hasil dari infrastruktur yang sudah dibangun.
"Kesepakatan ketiga CEO untuk mengatur kecepatan pengembangan tidak benar-benar mengubah besaran dana yang digelontorkan untuk cip, daya, dan infrastruktur. Justru, hal itu memperpanjang linimasa pengembangan," ujar Billy Leung, ahli strategi investasi di Global X Management, Sydney.
"Jika komersialisasi dan adopsi terus tumbuh sementara laju kemampuan baru sedikit melambat, hal itu justru membantu transisi dari fase pengeluaran dana untuk pembangunan menuju fase perolehan keuntungan dari apa yang sudah dibangun—misalnya, melalui monetisasi."
Sentimen terhadap perusahaan teknologi Asia sebelumnya sudah mendapat tekanan seiring menguatnya keyakinan para pedagang akan kenaikan suku bunga Federal Reserve minggu ini serta kenaikan biaya pinjaman global bulan ini, yang berpotensi menggerus laba.
Valuasi saham teknologi juga mungkin akan mendapat sorotan lebih tajam karena penilaian tersebut tidak hanya mengandalkan asumsi permintaan yang kuat, tetapi juga laju pengembangan model yang tiada henti, kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets, Singapura.
Meski demikian, sentimen negatif ini kemungkinan hanya bersifat sementara, mengingat adanya dorongan untuk menerapkan langkah-langkah pengamanan yang memicu peningkatan investasi di bidang keamanan siber dan perangkat pemantauan AI.
Perusahaan yang bergerak di sektor memori, jaringan, sistem pendingin, dan peralatan daya kemungkinan akan terlindungi oleh proyek-proyek yang sudah dalam tahap pengembangan, tambah Chanana.
"Permintaan akan daya komputasi dan adopsi AI tidak akan hilang hanya karena diterapkannya langkah-langkah pengamanan tambahan," ujarnya. "Bagi investor, pengembangan yang bertanggung jawab dapat membuat peluang AI menjadi lebih berkelanjutan, meskipun laju kemajuannya menjadi sedikit lebih terukur."
Kontrak SK Hynix Inc. mulai turun pada awal hari Minggu di Hyperliquid, sebuah platform berbasis blockchain yang memungkinkan pengguna memasang taruhan sepanjang waktu pada saham dan aset lainnya melalui kontrak perpetual futures. Hingga pukul 14.00 waktu Singapura, kontrak tersebut diperdagangkan turun sekitar 2,5% pada hari itu.
(bbn)




























