Serangan yang diklaim oleh kelompok Houthi memaksa kerajaan tersebut menghentikan operasional beberapa fasilitas energi di wilayah selatan negara itu pada Selasa. Situasi yang tidak stabil ini turut mendorong harga minyak mentah berjangka Brent mendekati level US$100 per barel di London.
Survei Bloomberg menunjukkan produksi minyak mentah Arab Saudi anjlok sebesar 1,12 juta barel per hari pada Agustus menjadi 6,98 juta barel per hari, level terendah sejak Mei. Ekspor minyak mentah kerajaan tersebut tercatat merosot sepertiga menjadi 3,03 juta barel per hari, berdasarkan data sementara pelacakan kapal tanker yang dihimpun oleh Bloomberg, Kpler, dan Vortexa.
Penurunan tersebut sedikit diimbangi oleh peningkatan produksi di Irak—menambah 270.000 barel per hari menjadi rata-rata 2,98 juta—dan di Venezuela, yang naik 70.000 barel hingga mencapai rekor tertinggi dalam tujuh tahun sebesar 1,23 juta barel per hari, seiring AS memperketat kendali atas industri minyak negara tersebut.
Kecenderungan negara Amerika Latin tersebut untuk mendekati Washington semakin menambah ketegangan dalam persatuan OPEC.
Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan pada akhir bulan lalu yang akan membuat AS mengambil kendali mayoritas atas kekayaan minyak Venezuela yang sangat besar.
Pihak-pihak yang mengetahui informasi ini mengatakan bahwa Caracas sedang mempertimbangkan dengan saksama untuk keluar dari OPEC—hanya beberapa bulan setelah kepergian Uni Emirat Arab yang mengejutkan.
Audit Produksi
Pada akhir pekan lalu, subkelompok yang terdiri dari anggota-anggota utama OPEC+ sepakat untuk tetap menjalankan rencana mempertahankan target produksi Oktober tanpa perubahan, menyusul serangkaian kenaikan kuota yang bersifat simbolis.
Rangkaian kenaikan tersebut secara nominal telah membalikkan kebijakan pemangkasan produksi yang diterapkan pada 2023, meski hambatan di Selat Hormuz menghalangi peningkatan produksi yang sesungguhnya.
Prioritas berikutnya bagi aliansi ini adalah melakukan audit terhadap kapasitas produksi fisik masing-masing anggota, yang akan digunakan dalam menghitung batas produksi anggota untuk tahun 2027.
Tinjauan tersebut dijadwalkan rampung pada akhir bulan ini, dan kemudian akan dibahas oleh para menteri perminyakan dalam pertemuan mereka pada akhir November.
Survei produksi Bloomberg didasarkan pada data pelacakan kapal, informasi dari pejabat, serta estimasi dari perusahaan konsultan Rapidan Energy Group, FGE NexantECA, Kpler Ltd, dan Rystad Energy AS.
(bbn)


























