"Secara keseluruhan kami melihat industri perbankan Indonesia tetap kuat dan resilient dengan intermediasi yang semakin ekspansif dan kualitas aset yang membaik," ujar Hery.
Hery mengatakan bahwa bagi perseroan optimisme terhadap prospek UMKM tersebut turut menjadi bagian dari strategi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis. Perseroan tidak hanya mengejar ekspansi kredit, tetapi juga berupaya memastikan pertumbuhan berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan melalui transformasi bisnis.
Dalam hal ini, BBRI menjalankan dua agenda secara simultan, yakni memperkuat pendanaan dan bisnis inti sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru. Pada bisnis mikro, perseroan melakukan perbaikan proses bisnis dan penerapan manajemen risiko yang lebih granular agar ekspansi dapat berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset.
"Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis mikro ke depan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset yang kita miliki," ujarnya.
Hingga semester I 2026, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% secara tahunan. Penyaluran kredit mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2%, sementara DPK mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7% secara tahunan.
Pertumbuhan bisnis tersebut turut menopang pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 9,9% menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga tumbuh 12,8% menjadi Rp65,7 triliun. Adapun, BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun pada semester I 2026, meningkat 17,5% secara tahunan.
Hery menambahkan, peningkatan dana murah turut memberikan dampak positif terhadap biaya dana (cost of fund) BRI. Cost of fund bank only turun dari 3% pada kuartal II 2025 menjadi 2,4% pada kuartal II 2026.
Dari sisi efisiensi, cost to income ratio (CIR) membaik dari 41,9% menjadi 39,2%. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan dengan LAR turun dari 3% menjadi 2,9%, sementara cost of credit turun dari 3,4% menjadi 3,1%.
"BRI tidak hanya tumbuh lebih cepat tetapi kualitas pertumbuhannya juga semakin baik," tutur Hery.
Ke depan, BRI masih melihat ruang pertumbuhan terutama melalui pembiayaan sektor produktif dan ekonomi kerakyatan. Namun, perseroan menegaskan ekspansi tersebut tetap akan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang kuat.
Hery mengatakan dukungan terhadap program pemerintah dan menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang bertentangan. Menurutnya, keduanya harus berjalan bersamaan agar pertumbuhan bisnis BRI dapat berkelanjutan dalam jangka panjang.
(dhf)




























