“Sampai hari ini dan ke depannya, kita percaya return dari dividen Bank Mandiri dan BRI itu sangat bagus,” kata Eddy.
Kendati demikian, dia menuturkan, lembagannya belum berencana untuk menambah muatan atau average down dua saham bank pelat merah tersebut di tengah koreksi saham sejak awal tahun ini.
Dia beralasan sebagian besar modal INA dialihkan untuk investasi pada private assets. INA juga getol memberi pinjaman ke sejumlah anak usaha dan special purpose vehicle (SPV) lainnya belakangan.
“Modalnya yang ada itu kita lebih banyak fokus investasi ke private assets,” kata dia.
Sebelumnya, INA menghimpit saham BMRI dan BBRI sebagai bagian penyertaan modal pemerintah secara bertahap pada 2021 lalu.
INA mendapat suntikan modal awal dari negara sebesar Rp15 triliun pada Februari 2021. Suntikan modal susulan sebesar Rp15 triliun diberikan pada 12 November 2021.
Sementara itu, INA mendapat saham BMRI dan BBRI dari pengalihan atau inbreng sebagian saham Seri B milik pemerintah paling banyak Rp45 triliun pada periode yang sama.
Dari lantai bursa, saham BMRI telah merosot 25,10% ke level Rp3.820 per saham sejak awal tahun ini. Sementara itu, saham BBRI anjlok 26,23% ke level Rp2.700 per saham year-to-date.
Koreksi dua saham bank pelat merah itu belakangan ikut menekan nilai aset INA per akhir 2025. INA menguasai 8% saham BMRI dan 3,63% saham BBRI.
Selama dua tahun terakhir INA mencatat kerugian yang belum direalisasi atas penurunan nilai saham BMRI dan BBRI mencapai Rp18,46 triliun.
Konsekuensinya, nilai aset INA di BMRI dan BBRI tinggal Rp58,2 triliun per akhir 2025, dari sebelumnya sempat berada di level Rp76,64 triliun pada awal 2024.
Kontribusi Dividen
BMRI dan BBRI masing-masing menyetor dividen Rp3,48 triliun dan Rp1,14 triliun untuk INA sepanjang 2025.
Setoran dividen BMRI relatif naik dari posisi tahun 2024 sebesar Rp2,64 triliun. Sementara itu, setoran dari BBRI susut dari posisi tahun sebelumnya yang sempat mencapai Rp2,49 triliun.
INA juga menerima dividen dari PT Tanam Investasi Indonesia dan PT Tumbuh Investasi Indonesia masing-masing Rp106,94 miliar dan Rp82 miliar pada 2025.
Secara keseluruhan pendapatan dividen INA mencapai Rp4,81 triliun sepanjang 2025, minus 8,52% dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp5,26 triliun.
Di sisi lain, INA turut mencetak pendapatan bunga dan lain-lain masing-masing Rp2,13 triliun dan Rp1,72 triliun pada 2025. Laba bersih INA mencapai Rp7,44 triliun, naik dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp5,42 triliun.
(naw)




























