Pergerakan mata uang Asia siang ini tak serempak. Rupiah, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, rupee India, juga baht Thailand kompak berada di zona merah.
Sebaliknya, won Korea Selatan menguat bersama peso Filipina, yuan offshore, dan dolar Hong Kong.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) jadi biang keladi yang menyebabkan beberapa mata uang di kawasan melemah. Federal Reserve (The Fed) memutuskan kembali menahan suku bunga di tengah ketidakpastian global. Hal ini semakin menegaskan kondisi perekonomian global tidak baik-baik saja dan menjadi realitas utama yang harus dihadapi seluruh negara, termasuk Indonesia.
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, kondisi ini menggambarkan bahwa rupiah berada dalam fase overshooting. Kondisi ini membawa tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek dan sedang dalam proses mencari titik keseimbangan baru.
“Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting—mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global. Dalam fase seperti ini, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas. Begitu BI menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat,” kata Fakhrul.
Imbal Hasil SRBI Melonjak
Ruang gerak Bank Indonesia (BI) untuk meredam fluktuasi rupiah makin terbatas lantaran kondisi ekonomi yang lesu. Memperketat kebijakan moneter bukan pilihan bijak. Maka, BI mengambil langkah untuk menyerap rupiah melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Mengacu data Bloomberg pada pukul 11:30 WIB, imbal hasil SRBI terus naik menjadi 6,21% di tengah aksi BI untuk menarik minat investor menempatkan uangnya dalam instrumen ini.
BI bahkan telah menambah frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali dalam sepekan, setiap Rabu dan Jumat. BI menyebut, posisi SRBI pada 21 April tercatat sudah mencapai Rp885,41 triliun.
Masuknya arus dana asing ke instrumen SRBI sepanjang 2026 mengerek posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia dengan kenaikan 2,5% menjadi US$437,9 miliar per akhir Februari.
"Peningkatan posisi ULN tersebut didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," sebut Laporan Statistik ULN Indonesia.
(dsp/aji)


























