"Tentunya dengan mempertimbangkan kinerja keuangan, kinerja permodalan dan juga yang tidak kalah penting adalah likuiditas," jelasnya.
"Bank Mandiri juga optimis akan terus menciptakan nilai atau value creation dalam jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kementingan," tutur Novita.
Adapun pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BMRI Riduan menuturkan perseroan telah membagikan dividen senilai Rp225 triliun dalam 25 tahun terakhir.
"Pada tahun 2025 dividen Bank Mandiri juga tumbuh kuat mencapai Rp52,5 triliun, yang berasal dari Rp43,5 triliun atas porsi laba 2024 dan Rp9 triliun dividen interim atas porsi laba 2025 yang telah dibayarkan pada 14 Januari 2026," ujarnya.
Kinerja Laba
BMRI membukukan laba bersih konsolidasi Rp56,3 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp55,78 triliun.
Perolehan laba bersih BMRI tersebut juga mengalahkan konsensus analis Bloomberg yang ada di kisaran Rp51,3 triliun.
Sepanjang 2025, Bank Mandiri mencatatkan pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar Rp48,5 triliun atau meningkat 4,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun pendapatan non bunga (non interest income) sebesar Rp48,5 triliun atau tumbuh 14,5%. Bank Mandiri memiliki net interest margin (NIM) sebesar 5,15%.
Bank Mandiri berhasil mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.895 triliun atau naik 13,4% dibandingkan 2024. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 23,9% atau mencapai Rp2.106 triliun.
Pada 2025, Bank Mandiri memiliki permodalan yang kuat. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 20,4%.
Selain itu kualitas kredit juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tercatat 0,96%.
Aset BMRI juga tumbuh sebesar 16,6% secara tahunan dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.
(prc/naw)



























