Logo Bloomberg Technoz

Menguatnya dolar AS ditopang oleh data ekonomi domestik AS yang dianggap cukup solid serta pencalonan Kevin Warsh yang diapresiasi oleh pelaku pasar. 

Sementara dari domestik, data pertumbuhan Indonesia yang siang tadi dirilis sebenarnya tidak terlalu buruk. Pertumbuhan sebesar 5,11% pada 2025 yang penuh turbulensi patut diapresiasi. 

Apalagi kondisi kondisi ekonomi global juga tidak sedang baik-baik saja. Terlihat dari angka pertumbuhan mitra dagang utama Indonesia seperti China berada di angka 5%, Malaysia 4,9%, Filipina 4,4%, Singapura 4,8%, dan Korea Selatan 1%.

Hanya Vietnam yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi cukup mentereng sebesar 8% seperti yang dicita-citakan Indonesia. 

Namun, kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian domestik dan mesin yang dapat memecut lajunya, masih cenderung rapuh. Hal ini juga terlihat di pasar surat utang sore ini yang mencatatkan aksi jual di beberapa tenor seperti di bawah ini. 

Tingkat imbal hasil di pasar surat utang Kamis sore (5/2/2026). Bloomberg.

Sebagai catatan, arus modal asing keluar di pasar surat utang tercatat US$201,8 juta dalam 12 bulan terakhir. Sementara arus modal asing juga keluar di pasar saham tercatat US$1.501,8 juta sepanjang 12 bulan terakhir.

Per kemarin, sebanyak US$85,4 juta arus modal asing keluar dari pasar saham. Hari ini, IHSG bergerak lesu dan ditutup susut 0,53% di 8.301. 

Kepercayaan investor jadi bekal utama bagi negara dengan kebutuhan tinggi terhadap arus modal asing. Pasar agaknya kurang sepakat jika pertumbuhan Indonesia cenderung mengandalkan belanja fiskal melalui program populis. 

"Memulihkan kepercayaan pasar dan konsumen menjadi prasyarat mutlak bagi Prabowo jika ingin keluar dari jebakan pertumbuhan 5% yang telah membelenggu ekonomi Indonesia selama bertahun-tahun. Ini terjadi ironisnya setelah era sebelumnya menorehkan reformasi struktural dan belanja infrastruktur besar-besaran.

"Alih-alih melanjutkan resep lama, Prabowo memilih jalur berbeda: memperluas perlindungan sosial bagi kelompok rentan lewat program perumahan dan bantuan lainnya, sembari berupaya menjaga kesinambungan agenda pengurangan hambatan infrastruktur dan peningkatan nilai tambah ekspor," sebut laporan Bloomberg Economics.

Menurut Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, ada dua yang dapat menahan akselerasi pertumbuhan Tanah Air di tahun ini. Pertama, penopang eksternal melemah yaitu kontribusi net ekspor cenderung menurun karena ketidakpastian perdagangan global, permintaan dunia yang tidak setinggi sebelumnya terutama dari China, serta impor yang meningkat ketika permintaan domestik pulih. 

Kedua, penahan domestik lebih struktural yakni konsumsi membaik tetapi belum sepenuhnya kuat dan merata karena tekanan daya beli kelompok kelas menengah dan kualitas penciptaan kerja, sementara investasi memang tumbuh tetapi masih menghadapi hambatan yang berulang seperti perizinan, suku bunga, perpajakan, dan kepastian ketentuan, yang tercermin dalam survei dunia usaha.

Sementara menurut Ekonom Bloomberg Tamara Handerson, investasi diperkirakan akan melambat, lantaran melemahnya sentimen akibat tekanan pada nilai tukar rupiah dan arus keluar modal yang kian deras. 

(dsp/aji)

No more pages