Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan hasil uji coba selama sepekan menunjukkan tingkat konsumsi makanan lebih baik. Selain itu, makanan yang disajikan dinilai lebih segar dan hangat sehingga meningkatkan antusiasme siswa.

"Kalau secara berdasarkan piloting yang seminggu ini, itu kita lihat hasilnya dari sisi satu tingkat kehabisannya lebih bagus, kemudian freshness dari makanan yang disajikan lebih baik, lebih hangat, terus antusiasme siswanya juga lebih senang, karena selain porsi yang dia dapat, kalau masih ada sisa masih bisa nambah," kata Sudaryono.

Meski demikian, BGN masih mengevaluasi kebutuhan biaya dan operasional apabila skema prasmanan diterapkan lebih luas. Evaluasi tersebut mencakup kebutuhan tenaga kerja, tingkat kesulitan pelaksanaan, serta potensi perubahan biaya penyelenggaraan program.

"Dari sisi operasional itu yang sedang kita hitung lagi, sedang kita kaji, kira-kira bisa kurang berapa atau jangan-jangan lebih berapa," ujarnya.

Sudayono menambahkan, penerapan sistem prasmanan juga membutuhkan edukasi kepada pihak sekolah agar pelaksanaannya berjalan efektif. Hal ini karena siswa memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda sesuai jenjang pendidikan.

Dia mencontohkan penyajian prasmanan bagi siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar memerlukan pendekatan berbeda dibandingkan siswa kelas 5 dan 6 yang lebih besar.

"Prasmanan di SD kelas 1 kelas 2, itu kan beda sama kelas SD kelas 6 sama kelas 5 kan beda. Kelas 1 kelas 2 kan masih kecil-kecil, nah itu beberapa hal yang memang secara teknis harus kita solve," kata Sudayono.

BGN akan menggunakan hasil uji coba tersebut untuk mengidentifikasi kendala teknis dan menghitung kebutuhan operasional sebelum menentukan langkah selanjutnya dalam penerapan skema MBG prasmanan.

(ain)

No more pages