Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Pangan, Energi & Rupiah Sumber Tekanan Inflasi Akhir 2026

Pramesti Regita Cindy
07 October 2026 15:10

Ilustrasi Inflasi (Diolah)
Ilustrasi Inflasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menilai risiko terbesar inflasi sampai akhir 2026 berasal dari kombinasi antara energi, nilai tukar rupiah, dengan pangan sebagai sumber tekanan paling langsung.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi pada September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini hampir mendekati sasaran pemerintah yang menjadi target sepanjang tahun ini, sebesar 2,5%+-1%.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan komponen harga pangan bergejolak atau volatile food sudah naik 5,03% yoy pada September, karena produksi di sentra terganggu cuaca dan biaya input meningkat.


"Jika gangguan pasokan berlanjut menjelang akhir tahun, harga beras, cabai, telur, dan ayam dapat menciptakan inflasi berulang serta menaikkan ekspektasi rumah tangga," kata Syafruddin, dikutip Rabu (7/10/2026).

Risiko kedua datang dari harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang dapat mendorong biaya bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, transportasi, pupuk, dan distribusi.